Blora, MEMANGGIL.CO - Gelombang solidaritas mengenai kasus pengeroyokan menimpa seorang pekerja seni di Kecamatan Tunjungan masih bergulir. Setelah sebelumnya Ketua Sedulur Seniman Blora (SSB), Budi Santosa, meminta agar persoalan tersebut diusut secara tuntas melalui jalur hukum, kini dukungan serupa datang dari Aliansi Pekerja Seni Budaya Blora.

Melalui poster ajakan yang beredar luas di media sosial, aliansi tersebut mengumumkan rencana aksi solidaritas di Mapolres Blora pada Kamis, 18 Juni 2026, pukul 11.30 WIB. Aksi itu diklaim sebagai bentuk pengawalan terhadap proses hukum kekerasan yang dialami pekerja seni saat menjalankan aktivitas panggung di wilayah Tunjungan.

Dalam poster bertajuk "Audiensi Bersama Kapolres Blora", aliansi menyerukan agar para pekerja seni bersatu mengawal penanganan kasus hingga tuntas.

Mereka menegaskan kehadiran ke Polres bukan untuk menciptakan kegaduhan, melainkan untuk memastikan adanya kepastian hukum atas kasus yang menyita perhatian publik tersebut.

"Kita datang bukan untuk mencari keributan. Kita datang untuk menuntut keadilan," demikian bunyi seruan dalam poster yang beredar.

Aliansi juga menuliskan sejumlah poin sikap. Di antaranya mengajak seluruh pekerja seni merapatkan barisan, mengawal proses hukum hingga tuntas, serta melawan segala bentuk kekerasan terhadap pekerja seni dan budaya.

Tak hanya itu, poster tersebut memuat kalimat-kalimat bernada solidaritas yang menunjukkan kuatnya ikatan emosional di kalangan pelaku seni.

"Saat satu pekerja seni dipukul, seluruh pekerja seni wajib bersuara. Saat martabat pekerja seni direndahkan, solidaritas harus dikobarkan."

Rencana audiensi ini menjadi babak lanjutan dari kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang seniman yang sebelumnya telah diberitakan luas dan memicu respons dari berbagai komunitas kesenian di Kabupaten Blora.

Sebelumnya, Ketua Sedulur Seniman Blora (SSB), Budi Santosa, meminta seluruh pihak untuk menahan diri dan menyerahkan proses penyelesaian kepada aparat penegak hukum.

Budi menegaskan bahwa pekerja seni hadir untuk menghibur masyarakat, bukan menjadi korban kekerasan saat menjalankan profesinya.

Ia juga berharap kasus tersebut dapat diusut secara profesional dan transparan agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan di kalangan pelaku seni.

Sate Pak Rizki

Menurutnya, keadilan harus diberikan kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang.

Munculnya Aliansi Pekerja Seni Budaya Blora menunjukkan bahwa peristiwa di Tunjungan tidak lagi dipandang sebagai persoalan personal semata.

Kasus tersebut telah berkembang menjadi perhatian bersama, terutama terkait jaminan keamanan bagi para pekerja seni saat menjalankan aktivitas di ruang-ruang hiburan masyarakat.

Di sisi lain, langkah audiensi ke Polres Blora dinilai menjadi pilihan yang lebih konstitusional dibanding tindakan-tindakan yang berpotensi memicu gesekan baru.

Dengan mendatangi institusi kepolisian secara terbuka, para pekerja seni berharap memperoleh kejelasan mengenai perkembangan penanganan perkara yang sedang berjalan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan terbaru dari Polres Blora terkait rencana audiensi tersebut. Namun sebelumnya, kepolisian menyatakan proses hukum atas laporan dugaan kekerasan itu masih terus berjalan.

Rencana kedatangan para pekerja seni ke Mapolres Blora pun diperkirakan akan menjadi ujian bagi komitmen semua pihak dalam menjaga ruang dialog tetap terbuka.

Sebab, di balik riuh panggung hiburan yang selama ini menghidupi banyak pelaku seni, tersimpan harapan sederhana yaitu bekerja dengan aman, dihormati, dan mendapatkan perlindungan hukum ketika hak-haknya diduga dilanggar.

Kasus ini kini bukan hanya soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Bagi banyak pekerja seni di Blora, ini juga tentang martabat profesi yang mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.

Solidaritas pun terus dikobarkan. Sebab, seperti tertulis dalam poster seruan tersebut, "Solidaritas tidak bisa dipukul mundur."