Blora, MEMANGGIL.CO - Penanganan kasus dugaan investasi digital bermasalah melalui aplikasi Snapboost masih bergulir di Kabupaten Blora. Setelah puluhan korban mendatangi DPRD Blora untuk menyampaikan keluhan dan meminta pendampingan, Polres Blora kini memperluas penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan korban serta menelusuri pola operasional aplikasi yang belakangan tidak lagi dapat diakses.
Kasatreskrim Polres Blora AKP Zaenul Arifin mengatakan, hingga saat ini proses penanganan masih berada pada tahap penyelidikan. Polisi masih fokus mengumpulkan informasi, bukti digital, serta keterangan para korban untuk memetakan konstruksi perkara secara utuh.
"Kami masih melakukan pendalaman dan klarifikasi terhadap para korban yang melapor. Selain itu, kami juga menelusuri pola kerja aplikasi tersebut, termasuk apakah ada aktor di daerah yang berperan merekrut anggota baru. Semua masih dalam proses penyelidikan," kata AKP Zaenul Arifin usai mengikuti audiensi bersama para korban di DPRD Blora, Rabu (17/6/2026).
Kasus Snapboost sendiri belakangan menjadi perhatian publik setelah banyak pengguna mengaku tidak lagi dapat mengakses akun maupun menarik dana yang sebelumnya mereka investasikan melalui aplikasi tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, laporan kerugian terus bermunculan. Sebagian korban mengaku tergiur mengikuti program investasi karena dijanjikan keuntungan dalam waktu relatif singkat. Namun setelah aplikasi tidak dapat diakses, dana yang telah disetorkan juga tidak bisa ditarik kembali.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah korban mendatangi DPRD Blora untuk meminta perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum agar persoalan tersebut mendapatkan penanganan serius.
Menurut AKP Zaenul Arifin, setiap laporan yang masuk saat ini menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan. Polisi membutuhkan data dan bukti dari korban untuk mengetahui pola transaksi, mekanisme perekrutan anggota, hingga kemungkinan adanya pihak-pihak yang berperan dalam penyebaran aplikasi tersebut.
Karena seluruh aktivitas dilakukan melalui platform digital, penyidik juga menaruh perhatian pada jejak elektronik yang ditinggalkan dalam setiap transaksi.
Untuk itu, Polres Blora berkoordinasi dengan unit yang memiliki kompetensi di bidang penelusuran digital guna membantu proses pendalaman.
"Karena modusnya berbasis aplikasi digital, kami berkoordinasi dengan tim siber untuk melakukan penelusuran lebih lanjut," ujar pucuk pimpinan Satreskrim Polres Blora ini.
Selain menelusuri aktivitas aplikasi, polisi juga berupaya memetakan aliran komunikasi yang terjadi antara pengguna dengan pihak yang memperkenalkan atau mengajak masyarakat bergabung ke dalam platform tersebut.
Meski demikian, AKP Zaenul Arifin menegaskan bahwa seluruh proses masih berjalan dan belum dapat disimpulkan adanya pihak tertentu yang bertanggung jawab sebelum seluruh rangkaian penyelidikan selesai dilakukan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak berspekulasi dan menyerahkan proses penanganan kepada aparat penegak hukum.
Polres Blora juga membuka ruang bagi masyarakat yang merasa dirugikan untuk segera melapor dengan membawa bukti-bukti pendukung yang dimiliki.
Bukti tersebut dapat berupa tangkapan layar transaksi, bukti transfer, riwayat penarikan dana, percakapan dengan pihak yang menawarkan investasi, maupun dokumen lain yang berkaitan dengan aktivitas di aplikasi Snapboost.
Menurut AKP Zaenul Arifin, semakin lengkap data yang disampaikan korban, semakin membantu penyidik dalam menyusun konstruksi perkara dan melacak pihak-pihak yang terlibat.
Di tengah proses penyelidikan yang masih berlangsung, polisi kembali mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap berbagai bentuk investasi digital yang menjanjikan keuntungan tinggi dalam waktu singkat.
Masyarakat diimbau untuk memastikan legalitas platform maupun badan usaha yang menawarkan investasi dengan melakukan pengecekan melalui otoritas resmi sebelum menempatkan dana.
Sementara itu, penyelidikan kasus Snapboost dipastikan masih terus berjalan. Polisi menyatakan akan menindaklanjuti setiap laporan yang masuk sebagai bagian dari upaya mengungkap dugaan permasalahan yang menyebabkan ratusan pengguna kehilangan akses terhadap dana mereka.