Mojokerto, MEMANGGIL.CO – Ratusan masyarakat dari berbagai daerah memadati kawasan Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Kamis (18/6/2026), untuk mengikuti tradisi tahunan Ruwat Sumber. Ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi simbol rasa syukur atas keberkahan sumber mata air sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam.
Prosesi adat yang digelar setiap datangnya bulan Suro tersebut berlangsung khidmat. Selain diikuti warga setempat, acara juga menarik perhatian wisatawan dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Jombang, Jawa Tengah hingga Bali.
Ketua pelaksana sekaligus pemangku adat, Mukade, menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan ritual telah ditentukan berdasarkan perhitungan adat yang diwariskan oleh para leluhur.
"Pelaksanaannya selalu pada bulan Suro dan dipilih sebelum tanggal 10 kalender Jawa yang bertepatan dengan pasaran Legi. Itu sudah menjadi ketentuan yang kami lestarikan dari generasi ke generasi," ungkap Mukade.
Menurutnya, Ruwat Sumber bukan sekadar tradisi budaya, melainkan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberadaan sumber air Jolotundo yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.
Mata air yang berasal dari lereng Gunung Penanggungan tersebut dimanfaatkan warga sebagai sumber air bersih, kebutuhan rumah tangga, hingga irigasi pertanian. Karena itu, menjaga kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.
Sebagai bagian dari komitmen menjaga lingkungan, masyarakat juga menggelar pelepasan burung ke habitatnya serta menanam pohon di sekitar kawasan sumber mata air.
"Bagi kami, menjaga alam adalah bagian dari makna ruwatan. Tidak cukup hanya menggelar doa dan ritual, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata agar alam tetap lestari," kata Mukade.
Ia menambahkan, keberadaan pepohonan memiliki peran penting dalam menjaga debit mata air di kawasan Gunung Penanggungan sehingga upaya penghijauan terus dilakukan setiap tahun.
Mukade mengakui tidak ada catatan pasti mengenai awal mula tradisi tersebut karena sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Tradisi ini sudah sangat tua. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan dimulai karena memang diwariskan secara turun-temurun," tuturnya.
Di sisi lain, perkembangan media sosial turut mendorong semakin dikenalnya Ruwat Sumber Jolotundo oleh masyarakat luas, terutama kalangan muda.
Salah seorang pengunjung, Rara (20), warga Sidoarjo, mengaku mengetahui agenda tersebut setelah melihat unggahan di TikTok. Awalnya ia hanya berniat berkunjung ke Petirtaan Jolotundo untuk mandi di sumber air.
"Saya tahunya dari TikTok. Tidak menyangka ternyata hari ini bertepatan dengan acara ruwatan dan pengunjungnya sangat ramai," ujarnya.
Rara pun ikut mengantre bersama ribuan peserta untuk mendapatkan air yang telah didoakan dalam prosesi adat. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, air yang bergerak atau terguncang dianggap memiliki makna penyucian diri.
Usai memperoleh air tersebut, banyak peserta melanjutkan ritual dengan prosesi rendeman atau berendam di petirtaan sebagai simbol penyucian lahir dan batin. Tradisi ini diyakini masyarakat sebagai ikhtiar spiritual sekaligus harapan memperoleh kesehatan, keselamatan, dan keberkahan hidup.