Semarang, MEMANGGIL.CO - Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 ternyata tidak hanya menyasar Desa Banjarejo. Tetapi, juga menyasar ke desa-desa di Blora lainnya.
Berdasarkan daftar peserta sosialisasi yang diterbitkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, belasan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di Kabupaten Blora turut masuk sebagai penerima program yang bertujuan memperkuat infrastruktur irigasi pertanian tersebut.
Sebelumnya, Pemerintah Desa Banjarejo menyebut program ini menjadi harapan baru bagi petani karena mampu membantu mengatasi persoalan distribusi air yang selama ini masih menjadi kendala, khususnya pada area sawah yang bergantung pada curah hujan.
Kini, harapan serupa juga muncul di sejumlah desa lain. Dari daftar penerima yang mengikuti sosialisasi di Semarang, program P3-TGAI menjangkau beberapa desa di Kecamatan Jepon dan Jiken yang selama ini memiliki kawasan pertanian cukup luas.
Di Kecamatan Jepon, penerima program antara lain berasal dari Desa Bacem melalui P3A Amreta Agung, Cigrok Luhur, dan Ngudi Tirta. Selanjutnya Desa Balong melalui P3A Koyo Banyu Kali, Desa Brumbung melalui P3A Niki Tirto Brumbung, hingga Desa Geneng yang tercatat memiliki tiga kelompok penerima sekaligus, yakni P3A Banyu Udan, Tanjung Sari, dan Harmoni.
Program serupa juga menjangkau Desa Jatirejo melalui P3A Banyu Aji, Tirto Jati Agung, dan Tirto Mulyo. Sementara di Desa Jomblang terdapat P3A Banyu Jati Bagus dan Banyu Ngrojo yang juga masuk dalam daftar peserta sosialisasi.
Tak hanya itu, Desa Kawengan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penerima cukup banyak melalui P3A Kincuk Putro, Satrio Piningit, dan Tirto Anteng. Program juga menyentuh Desa Kemiri, Palon, Semanggi, Sumurboto hingga Waru.
Keikutsertaan banyak kelompok petani tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan peningkatan saluran irigasi masih menjadi perhatian serius pemerintah pusat, terutama pada daerah-daerah yang menggantungkan perekonomian masyarakatnya pada sektor pertanian.
Perwakilan Pemerintah Desa Banjarejo, Muhammad Aminuddin, sebelumnya menjelaskan bahwa salah satu faktor yang melatarbelakangi usulan program adalah kondisi geografis wilayah dan kebutuhan lahan pertanian terhadap ketersediaan air.
"Letak geografis dan area lahan pertanian," ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Menurut Amin, keberadaan program ini sangat penting karena masih banyak lahan pertanian yang mengalami kendala pasokan air, terutama ketika memasuki musim kemarau.
"Ada banyak kendala, salah satu di antaranya kurangnya suplai air untuk sawah tadah hujan," katanya.
Program P3-TGAI sendiri mengedepankan pola swakelola melalui kelompok petani pemakai air. Artinya, pembangunan tidak dilaksanakan oleh kontraktor atau pihak ketiga, melainkan dikerjakan langsung oleh masyarakat setempat melalui organisasi P3A yang telah ditetapkan.
Skema tersebut dinilai memberikan manfaat ganda. Selain memperbaiki jaringan irigasi, program ini juga membuka ruang partisipasi masyarakat dalam pembangunan sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap infrastruktur yang dibangun.
Sosialisasi pelaksanaan P3-TGAI Tahun Anggaran 2026 digelar oleh BBWS Pemali-Juana di Semarang dan dihadiri perwakilan kelompok penerima dari berbagai daerah.
Dari Kabupaten Blora sendiri, masing-masing desa mengirimkan jumlah perwakilan yang berbeda sesuai jumlah titik pekerjaan yang diterima.
"Beda-beda, ada yang dua, ada yang tiga, ada yang satu. Tergantung dapat berapa titik," jelas Amin.
Dengan masuknya belasan kelompok P3A dari Kecamatan Jepon dan Jiken dalam daftar penerima program, pembangunan jaringan irigasi di Kabupaten Blora diperkirakan akan semakin masif pada tahun 2026.
Harapannya, peningkatan tata guna air tidak hanya memperlancar distribusi air ke lahan pertanian, tetapi juga berdampak langsung terhadap produktivitas hasil panen dan kesejahteraan petani di daerah tersebut.
"Harapnya dijaga dan dirawat bersama, sehingga program yang sudah diberikan oleh pemerintah pusat bisa awet dan bisa dimanfaatkan oleh petani dalam jangka lama," pungkas Amin.