Surabaya, MEMANGGIL.CO – Keterbatasan ekonomi dan kondisi fisik tidak menyurutkan langkah Zahira Dewi Kirana Lestari untuk meraih pendidikan tinggi.
Anak pedagang toko kelontong asal Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri ini diterima sebagai mahasiswa Program Studi S-1 Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui jalur Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Kepastian tersebut disampaikan langsung saat jajaran pimpinan Unesa mengunjungi kediaman Zahira di Kediri pada Selasa, 21 Juli 2026.
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, mengatakan, peninjauan lapangan ini dilakukan untuk memastikan bantuan beasiswa dari pemerintah benar-benar tepat sasaran.
"Kami melakukan seleksi secara ketat karena kuota penerima KIP Kuliah terbatas. Kami melihat berbagai aspek, mulai dari kondisi ekonomi, prestasi, hingga motivasi mahasiswa untuk berkembang," kata Martadi dalam keterangan resminya, Kamis, 23 Juli 2026.
Ia menambahkan, dukungan Unesa kepada penerima KIP Kuliah tidak berhenti pada pembebasan biaya pendidikan.
Namun, pihak kampus juga menyediakan pendampingan akademik, fasilitas ramah disabilitas, hingga akomodasi tempat tinggal agar mahasiswa dapat belajar secara aman dan nyaman.
Selain itu, mahasiswa penerima beasiswa tetap diberikan akses dan kesempatan yang sama untuk mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan, termasuk program pertukaran mahasiswa ke luar negeri.
Zahira, yang merupakan penyandang disabilitas daksa dan alumni MAN 3 Kediri, dikenal aktif secara akademik selama di sekolah.
Menurut mantan wali kelasnya, Ahmad Fauzi, mengenag Zahira sebagai sosok yang ceria, mudah bergaul, dan berprestasi, salah satunya melalui keikutsertaannya dalam Olimpiade Sains Madrasah (OSM).
Sementara itu, minat Zahira pada bahasa Inggris tumbuh dari hobinya menikmati film, musik, dan bacaan berbahasa Inggris sejak sekolah. Impian tersebut kini kian dekat seiring kepastiannya berkuliah di Surabaya.
"Dari SMA memang sudah ingin kuliah di Surabaya karena sejak kecil sering kontrol kesehatan di sana. Saya ingin belajar bahasa dan budaya lain, dan kalau ada kesempatan, ingin coba exchange ke luar negeri," pungkas Zahira.