Semarang, MEMANGGIL.CO - Kontestasi menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mulai memasuki babak baru. Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 dengan membawa gagasan besar membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Nama Gus Rozin bukan sosok baru di lingkungan NU. Ia merupakan putra almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU yang dikenal sebagai ulama besar, pendiri gagasan fikih sosial, sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjalanan Nahdlatul Ulama modern.
Latar belakang keluarga pesantren, perjalanan panjang di organisasi, pengalaman memimpin lembaga pendidikan, hingga kiprah di berbagai institusi nasional menjadi modal yang dibawa Gus Rozin memasuki bursa calon Ketua Umum PBNU.
Dalam dokumen visi, misi, dan program strategis yang disiapkan menjelang Muktamar, Gus Rozin menawarkan arah baru bagi NU agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Visi tersebut dirumuskan menjadi cita-cita menghadirkan Nahdlatul Ulama sebagai Jam'iyyah Diniyyah Ijtimaiyyah yang ta'aluf, berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat bagi Indonesia maupun dunia.
Menurutnya, NU memiliki modal sosial terbesar di Indonesia. Namun kekuatan tersebut perlu dikelola melalui tata kelola organisasi yang profesional, transparan, akuntabel, serta berbasis data agar seluruh potensi warga NU dapat bergerak dalam satu ekosistem.
Gagasan itu diterjemahkan dalam sembilan misi strategis, mulai dari penguatan Aswaja dan Khittah NU, konsolidasi organisasi, kepemimpinan transformatif, tata kelola modern, pengelolaan aset, penguatan pesantren, diplomasi internasional, hingga pelayanan langsung kepada warga nahdliyin.
Dalam konsep kepemimpinannya, Gus Rozin meletakkan empat nilai utama sebagai fondasi gerakan organisasi, yakni ta'aluf, berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Ia menilai ta'aluf menjadi fondasi persatuan organisasi. Dari persatuan lahir kedaulatan dalam mengambil keputusan. Kedaulatan kemudian melahirkan martabat organisasi, yang pada akhirnya bermuara pada manfaat nyata bagi umat.
Selain menawarkan arah kebijakan organisasi, Gus Rozin juga memetakan sejumlah persoalan internal yang dinilai perlu segera dibenahi, mulai dari fragmentasi komunikasi antarstruktur, tata kelola kelembagaan, optimalisasi aset organisasi, hingga tantangan perubahan global yang semakin kompleks.
Menurutnya, NU harus mampu menjadi organisasi yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, ekonomi, lingkungan, hingga perubahan geopolitik dunia tanpa kehilangan identitas keulamaannya.
Jejak Panjang Sejak Pesantren
Perjalanan Gus Rozin dimulai dari lingkungan Pesantren Maslakul Huda Kajen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Lahir dan dibesarkan di tengah keluarga ulama, ia memperoleh pendidikan langsung dari ayahnya, KH MA Sahal Mahfudh, sosok yang selama hidupnya dikenal konsisten mengembangkan pemikiran Islam moderat dan fikih sosial.
Sejak kecil, kehidupan Gus Rozin tidak lepas dari tradisi mengaji, belajar kitab kuning, disiplin pesantren, dan aktivitas melayani masyarakat.
Selepas menempuh pendidikan dasar hingga aliyah di Perguruan Islam Mathali'ul Falah Kajen, ia melanjutkan pendidikan pesantren di Fathul Ulum Tambakberas, Jombang.
Jenjang akademiknya berlanjut di STAI Al Aqidah Jakarta, kemudian meraih gelar magister di Monash University Australia, hingga menyelesaikan program doktor di UIN Walisongo Semarang.
Perjalanan intelektual itu diperkaya dengan berbagai pelatihan kepemimpinan, pendidikan internasional, pertukaran budaya, hingga program akademik di Inggris, Jerman, Suriah, Jepang, Finlandia, Lebanon, China, dan Australia.
Mengabdi Sejak Muda
Karier organisasi Gus Rozin juga berlangsung panjang. Ia memulai pengabdian dari IPNU, kemudian GP Ansor, dipercaya menjadi Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU, Ketua RMI NU Jawa Tengah, Ketua RMI PBNU, Mustasyar PCNU Pati, Katib Syuriah PBNU, hingga akhirnya dipercaya memimpin PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029.
Di luar NU, Gus Rozin juga dipercaya mengemban sejumlah amanah nasional, antara lain menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan, anggota Tim Komunikasi Presiden, Panitia Seleksi KPU, Panitia Seleksi Ombudsman RI, pengurus MUI, Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah, hingga berbagai lembaga strategis lainnya.
Pengalaman tersebut dinilai membuatnya memahami dinamika organisasi keagamaan sekaligus tata kelola kelembagaan negara.
Bangun NU Abad Kedua
Selama memimpin PWNU Jawa Tengah, Gus Rozin mendorong berbagai program konsolidasi organisasi, digitalisasi layanan, penguatan pendidikan Ma'arif, pemberdayaan ekonomi warga, pengembangan pesantren, layanan hukum, filantropi, ketahanan keluarga, hingga diplomasi internasional.
Seluruh agenda itu dirancang sebagai fondasi memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama.
Baginya, ukuran keberhasilan NU bukan hanya besarnya jumlah anggota, melainkan sejauh mana organisasi mampu menghadirkan manfaat konkret bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di berbagai tingkatan kepengurusan NU, latar belakang pesantren, pendidikan internasional, serta pengalaman di berbagai lembaga negara, Gus Rozin kini membawa gagasan besar menuju Muktamar PBNU.
Yakni, membangun Nahdlatul Ulama yang tetap berakar kuat pada tradisi ulama, tetapi mampu menjawab tantangan zaman melalui tata kelola modern, kepemimpinan yang bermartabat, serta kebermanfaatan yang dirasakan seluruh warga nahdliyin.