Jombang, MEMANGGIL.CO - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menghadirkan pemandangan yang sarat makna melalui pameran lukisan para muasis NU.
Wajah para ulama pendahulu itu terpampang di kawasan Ribath Al Lathifiyah 2 Al Wahabiyah 1 atau Ndhalem Bu Nyai Mundjidah Wahab, bersanding dengan kesibukan persiapan menyambut peserta Muktamar dari berbagai daerah.
Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah KH Ahmad Zaki Fuad atau Gus Zaki menilai perjalanan menuju Muktamar semestinya tidak hanya diwarnai pembicaraan mengenai kandidat, tetapi juga gagasan dan rekam jejak pengabdian kepada organisasi.
"Yang perlu kita tunjukkan adalah perjalanan organisasinya, pertemuannya dengan para kiai, aspirasi dari daerah, gagasan yang lahir dari silaturahmi, dan rekam jejak pengabdiannya di NU," kata Gus Zaki, Selasa (25/8/2026).
Pernyataan tersebut menemukan relevansinya ketika wajah para muasis NU dihadirkan kembali melalui karya seni tepat menjelang forum yang akan menentukan arah organisasi untuk periode berikutnya.
Para muasis merupakan bagian dari sejarah panjang NU yang tidak hanya membangun organisasi, tetapi juga mengembangkan pesantren, pendidikan, dakwah dan tradisi keilmuan yang hingga kini menjadi bagian dari identitas Nahdlatul Ulama.
Pameran lukisan itu pun dapat menjadi ruang refleksi bagi generasi Nahdliyin untuk melihat kembali dari mana organisasi ini tumbuh sebelum membicarakan ke mana NU akan dibawa.
Kehadiran karya para seniman lokal Jombang tersebut membuat persiapan Muktamar memiliki dimensi lain karena sejarah organisasi hadir berdampingan dengan dinamika politik internal NU.
Sejumlah lukisan bahkan disiapkan untuk mengikuti mekanisme open bidding atau lelang sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seni yang mengangkat sosok para ulama.
Di tengah suasana tersebut, dinamika pencalonan Ketua Umum PBNU menjadi salah satu perhatian yang tidak terpisahkan dari persiapan Muktamar ke-35.
Gus Zaki mengingatkan agar komunikasi politik menjelang Muktamar tidak membuat ruang pilihan peserta menjadi sempit.
"Jangan setiap pertemuan dengan pengurus NU kemudian diterjemahkan sebagai paket politik," ujar pengasuh Ponpes Khozinatul Ulum Al Azhar ini.
Menurutnya, silaturahmi kandidat dengan pengurus NU di berbagai daerah semestinya menjadi kesempatan untuk mendengarkan aspirasi sekaligus menyampaikan gagasan tentang masa depan organisasi.
Pandangan tersebut sekaligus menempatkan Muktamar sebagai forum yang harus memberi kesempatan kepada peserta untuk menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan masing-masing.
"Jangan sampai kepemimpinan NU sudah dikunci dalam paket-paket tertentu sebelum Muktamar berlangsung," tegas Gus Zaki.
Bagi Gus Zaki, persoalan kepemimpinan tidak semestinya menggeser pembahasan mengenai agenda besar NU dalam menghadapi perubahan sosial, tantangan umat dan kebutuhan jamaah.
"Yang utama adalah masa depan NU, bagaimana NU ke depan semakin kuat, mandiri, bermartabat dan tetap dekat dengan jamaah," ujarnya.
Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika Muktamar berlangsung di lingkungan pesantren yang memiliki hubungan erat dengan tradisi keilmuan dan sejarah Nahdlatul Ulama.
Tambakberas bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya agenda organisasi, tetapi juga ruang yang menyimpan jejak panjang perjalanan pesantren dan para ulama.
Karena itu, pameran lukisan para muasis dapat dibaca sebagai simbol bahwa pembicaraan mengenai masa depan NU tidak boleh terputus dari sejarah yang telah membentuk organisasi.
Para muasis yang hadir melalui kanvas seolah menjadi pengingat bahwa NU hari ini merupakan hasil dari perjalanan panjang yang dibangun dengan khidmah dan pengorbanan.
Generasi sekarang kemudian memiliki tugas untuk meneruskan perjalanan tersebut dengan menjawab persoalan baru tanpa meninggalkan nilai yang menjadi fondasi organisasi.
Dalam konteks itulah Muktamar ke-35 NU memiliki arti lebih luas daripada sekadar agenda pemilihan kepemimpinan.
Forum tersebut menjadi kesempatan untuk menguji kembali sejauh mana organisasi mampu menjaga tradisi sekaligus merumuskan langkah baru menghadapi tantangan zaman.
Gus Zaki berharap proses tersebut tetap diserahkan kepada mekanisme Muktamar dan mandat peserta.
"Biarkan Muktamar menentukan," tegasnya.
Di Tambakberas, lukisan para muasis akhirnya menjadi bagian dari cerita menjelang Muktamar ke-35 NU, ketika wajah masa lalu hadir di tengah generasi yang sedang menimbang masa depan.
Kanvas-kanvas itu tidak berbicara mengenai siapa yang akan menang atau kalah dalam kontestasi, tetapi menghadirkan pesan yang lebih panjang tentang pentingnya menjaga warisan perjuangan para ulama.
Muktamar pun diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga menghadirkan arah baru yang tetap berakar pada sejarah, tradisi dan khidmah para muasis NU.