Jombang, MEMANGGIL.CO - Perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki fase paling menentukan menjelang Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026.

Empat nama yang sebelumnya mengemuka sebagai kandidat utama adalah Ketua Umum PBNU petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, dan Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Namun, peta tersebut belum sepenuhnya final karena sejumlah nama lain juga masih muncul dalam bursa, sementara kekuatan kandidat baru benar-benar dapat diuji melalui mekanisme pencalonan dan dukungan struktur NU dalam Muktamar.

Gus Yahya

Gus Yahya memasuki kontestasi dengan keuntungan sebagai petahana yang telah memimpin PBNU sejak Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting karena Gus Yahya telah mengetahui secara langsung mekanisme kerja PBNU, hubungan antarstruktur serta tantangan organisasi selama satu periode kepemimpinan.

Salah satu agenda yang dikaitkan dengan kepemimpinannya adalah penguatan tata kelola dan transformasi digital organisasi, sementara kiprahnya di bidang diplomasi internasional juga menjadi bagian dari profil kepemimpinannya.

Status petahana sekaligus menghadirkan konsekuensi lain karena keberlanjutan kepemimpinan berarti membawa serta rekam jejak lima tahun terakhir untuk dinilai kembali oleh peserta Muktamar.

Dengan kata lain, kekuatan Gus Yahya bukan hanya soal jaringan yang telah terbentuk, tetapi juga kemampuan meyakinkan Muktamirin bahwa agenda yang telah dijalankan masih relevan untuk diteruskan.

Gus Rozin

Berbeda dengan petahana, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin tampil dengan narasi perubahan dan pembenahan organisasi.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah tersebut memiliki pengalaman panjang dalam struktur NU, mulai dari organisasi kepemudaan hingga sejumlah lembaga strategis PBNU, sehingga memiliki pengalaman melihat persoalan organisasi dari tingkat bawah maupun pusat.

Gus Rozin juga memiliki modal genealogis sebagai putra KH MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU periode 1999-2014, yang dikenal sebagai salah satu ulama penting dalam perjalanan NU modern.

Di bidang akademik, Gus Rozin memiliki pengalaman pendidikan hingga jenjang doktoral dan pernah menempuh pendidikan di Monash University Australia serta UIN Walisongo Semarang.

Menjelang Muktamar, Gus Rozin juga aktif bertemu pengurus NU di berbagai daerah untuk mendengar aspirasi mengenai organisasi, pesantren, kaderisasi, ekonomi jamaah hingga penguatan struktur.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu karakter yang ditawarkan Gus Rozin, yakni membangun kepemimpinan dengan memperbesar ruang komunikasi antara PBNU dan struktur NU di daerah.

NU Online sebelumnya juga mencatat Gus Rozin telah menyatakan kesiapannya maju dalam Muktamar ke-35 dengan membawa agenda pembenahan organisasi.

Kiai Zulfa

KH Zulfa Mustofa memiliki karakter berbeda karena kekuatannya bertumpu pada pengalaman panjang sebagai kader internal PBNU.

Kiai Zulfa telah berproses dalam struktur PBNU selama bertahun-tahun dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.

Pengalaman tersebut membuatnya memiliki pemahaman mengenai mekanisme organisasi sekaligus persoalan yang muncul dalam tata kelola PBNU.

Narasi kaderisasi menjadi salah satu kekuatan yang melekat pada pencalonannya karena Kiai Zulfa menawarkan figur yang tumbuh dari proses internal organisasi.

Ia juga dikenal memiliki basis keilmuan Islam yang kuat, terutama dalam bidang fikih dan ushul fikih, sehingga menawarkan kombinasi antara kapasitas keagamaan dan pengalaman organisasi.

Dalam peta persaingan, posisi Kiai Zulfa menjadi menarik karena ia tidak datang sebagai figur dari luar struktur PBNU, tetapi sebagai kader yang telah lama berada di dalam rumah organisasi.

Modal tersebut dapat menjadi kekuatan apabila mampu diterjemahkan menjadi dukungan konkret dari struktur NU di berbagai tingkatan.

Gus Kikin

Sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin membawa modal yang berbeda melalui basis Jawa Timur dan jaringan pesantren.

Gus Kikin merupakan Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, salah satu pesantren yang memiliki posisi penting dalam sejarah NU.

Kekuatan utamanya berasal dari kombinasi pengalaman organisasi, jaringan pesantren dan kedekatan dengan basis Nahdliyin Jawa Timur.

Yang membuat pencalonan Gus Kikin semakin diperhitungkan adalah dukungan dari struktur NU Jawa Timur yang menjadi salah satu basis organisasi terbesar.

Kehadiran Muktamar di Jombang juga memberikan dimensi simbolik tersendiri bagi Gus Kikin karena ia berasal dari lingkungan pesantren yang memiliki hubungan historis sangat kuat dengan NU.

Namun, basis Jawa Timur saja belum otomatis menjamin kemenangan karena kontestasi Ketua Umum PBNU membutuhkan dukungan yang lebih luas dari struktur NU di berbagai daerah.

4 Kandidat, 4 Modal Politik Organisasi

Jika dipetakan, Gus Yahya membawa modal petahana dan pengalaman nasional, Gus Rozin menawarkan jaringan daerah serta agenda perubahan, Kiai Zulfa memiliki kekuatan kaderisasi internal, sedangkan Gus Kikin membawa mandat Jawa Timur dan basis pesantren.

Perbedaan tersebut membuat pertarungan kali ini tidak sederhana karena masing-masing kandidat memiliki jalur kekuatan yang berbeda.

Bahkan, perkembangan terbaru menunjukkan bursa calon tidak hanya berkisar pada empat nama tersebut karena sejumlah tokoh lain juga masih disebut-sebut memiliki peluang untuk masuk dalam kontestasi.

Karena itu, popularitas seorang kandidat di ruang publik tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai jumlah suara dalam Muktamar.

Dukungan nyata dari struktur NU, kemampuan membangun komunikasi, rekam jejak kepemimpinan, penerimaan di kalangan ulama dan pesantren serta gagasan mengenai masa depan organisasi menjadi faktor yang jauh lebih menentukan.

Muktamar ke-35 NU pada akhirnya bukan hanya akan menguji siapa yang paling populer, tetapi siapa yang mampu memperoleh mandat melalui mekanisme organisasi.

Persaingan tersebut juga membawa pertanyaan lebih besar mengenai arah NU setelah memasuki abad kedua, apakah organisasi akan melanjutkan agenda yang telah berjalan, melakukan koreksi terhadap tata kelola, memperkuat kaderisasi atau mengembalikan fokus yang lebih besar pada basis pesantren dan jamaah.

Di sisi lain, dinamika dukungan menjelang Muktamar menunjukkan bahwa belum tepat menyebut satu kandidat sebagai pemenang sebelum proses resmi berlangsung.

Sejumlah polling dan survei yang beredar bahkan menghasilkan gambaran berbeda-beda, memperlihatkan bahwa persepsi publik tidak selalu identik dengan peta kekuatan suara di dalam Muktamar.

Pada akhirnya, kekuatan sesungguhnya akan terlihat ketika para kandidat berhadapan dengan mekanisme Muktamar dan para pemilik suara menentukan pilihan.

Siapa pun yang terpilih nantinya tidak hanya menerima mandat untuk memimpin PBNU, tetapi juga memikul pekerjaan besar menjaga persatuan internal, memperkuat struktur hingga tingkat bawah dan memastikan NU tetap dekat dengan pesantren serta jamaah.

**Muktamar ke-35 NU dengan demikian bukan sekadar pertarungan empat nama, melainkan pertarungan gagasan, rekam jejak, jaringan dan model kepemimpinan yang akan menentukan arah Nahdlatul Ulama untuk lima tahun ke depan.**