Jombang, MEMANGGIL.CO - KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menghadapi Muktamar ke-35 NU dengan pengalaman organisasi yang telah melewati sejumlah jenjang kepengurusan Nahdlatul Ulama.
Mulai dari badan otonom tingkat pusat hingga memimpin PWNU Jawa Tengah, Gus Rozin memiliki perjalanan panjang yang menjadi salah satu modal dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU.
Rekam jejak tersebut dimulai dari keterlibatannya sebagai Pengurus Pusat IPNU periode 1998–2001. Setelah itu, Gus Rozin menjadi Pengurus Pusat GP Ansor periode 2000–2004 dan melanjutkan pengabdian di bidang pendidikan melalui LP Ma'arif PBNU.
Pada 2010–2013, Gus Rozin dipercaya sebagai Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU. Pengalaman di bidang pesantren kemudian semakin kuat setelah ia dipercaya menjadi Ketua RMI NU Jawa Tengah pada 2013–2015 dan Ketua RMI PBNU pada 2015–2021.
Gus Rozin juga memiliki pengalaman dalam struktur cabang melalui posisinya sebagai Mustasyar PCNU Kabupaten Pati periode 2019–2024.
Di lingkungan PBNU, ia pernah menjadi Katib Syuriyah PBNU periode 2021–2023. Kini, Gus Rozin menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029.
Pengalaman dari pusat hingga wilayah tersebut menjadi salah satu dasar untuk melihat kesiapan administratif Gus Rozin dalam bursa Ketua Umum PBNU.
Dalam aturan organisasi, calon Ketua Umum PBNU harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk pengalaman dalam struktur kepengurusan NU dan ketentuan kaderisasi. Gus Rozin memiliki pengalaman yang bersinggungan dengan sejumlah kategori tersebut.
Ia pernah berada dalam struktur badan otonom tingkat pusat melalui IPNU dan GP Ansor, lembaga PBNU melalui LP Ma'arif dan RMI, serta kepengurusan wilayah melalui PWNU Jawa Tengah.
Namun, aspek pengalaman organisasi tidak berdiri sendiri dalam proses pencalonan Ketua Umum PBNU. Ada tahapan lain yang harus dilewati, termasuk mekanisme pencalonan dan dukungan dari struktur organisasi.
Karena itu, posisi Gus Rozin dalam bursa tidak hanya ditentukan oleh riwayat jabatan yang pernah diembannya. Komunikasi dengan pengurus wilayah dan cabang menjadi bagian penting dalam proses konsolidasi menjelang Muktamar.
Dalam beberapa pekan terakhir, Gus Rozin aktif bertemu sejumlah pengurus NU di daerah untuk menyampaikan gagasan kepemimpinan sekaligus menyerap aspirasi.
Konsolidasi tersebut menjadi penting karena forum Muktamar bukan hanya ruang pertarungan gagasan, tetapi juga forum pengambilan keputusan organisasi.
Bagi Gus Rozin, pengalaman panjang di NU menjadi modal untuk memahami karakter organisasi dari berbagai lapisan.
Pengalaman tersebut mencakup persoalan kaderisasi, pendidikan, pesantren, cabang, wilayah serta kepengurusan pusat.
Keterlibatannya dalam Majelis Masyayikh juga menambah pengalaman dalam persoalan pengembangan pendidikan pesantren di tingkat nasional.
Dengan modal tersebut, Gus Rozin menghadapi Muktamar ke-35 NU bukan sebagai figur yang baru muncul ketika suksesi kepemimpinan dimulai.
Ia datang dengan rekam jejak organisasi yang telah terbentuk selama lebih dari dua dekade.
Muktamar ke-35 NU yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang nantinya menjadi forum untuk menentukan siapa yang memperoleh amanah memimpin PBNU.
Bagi Gus Rozin, modal pengalaman organisasi telah tersedia, sedangkan dinamika dukungan dan keputusan muktamirin akan menjadi bagian berikutnya dalam perjalanan pencalonannya.