Rembang, MEMANGGIL.CO - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, setelah muncul dugaan keracunan yang menimpa siswa dan guru SMAN 1 Lasem. Penghentian operasional itu sekaligus membuat 45 relawan yang bekerja di dapur SPPG Soditan harus berhenti sementara dari aktivitas mereka.
Keputusan tersebut berlaku sejak Jumat (4/9/2026). Hingga kini belum ada kepastian kapan dapur SPPG Soditan kembali diperbolehkan menjalankan pelayanan karena pihak pengelola masih menunggu keputusan dan surat tugas dari BGN.
Kepala SPPG Soditan, Ahmad Solih, membenarkan adanya status suspend dari BGN. Ia mengatakan seluruh aktivitas dapur dihentikan sementara sampai ada instruksi lebih lanjut dari lembaga yang berwenang.
“Per hari ini statusnya suspend dari BGN. Diliburkan sampai ada surat tugas kembali untuk operasional. Belum tahu sampai kapan keputusan ini,” kata Soleh.
Pembekuan tersebut dilakukan setelah muncul dugaan gangguan kesehatan secara massal di lingkungan SMAN 1 Lasem. Sejumlah siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menu yang sebelumnya dibagikan kepada penerima manfaat kini ikut menjadi bagian dari pemeriksaan. Sejumlah sampel makanan telah diambil oleh pihak terkait untuk memastikan kondisi makanan dan membantu proses penelusuran penyebab kejadian.
Soleh menyebut sampel berasal dari seluruh menu yang dibagikan. Makanan tersebut terdiri atas ayam bakar, nasi, lalapan, tempe mendoan, semangka, dan sambal.
“Semua menu ayam bakar, nasi, lalapan, tempe mendoan, semangka dan sambal sudah diambil sampelnya oleh pihak terkait,” ujarnya.
Sampel tersebut selanjutnya menunggu pemeriksaan laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM). Hasil laboratorium menjadi salah satu informasi penting untuk mengetahui kondisi makanan yang telah dikonsumsi para siswa dan guru.
Selama proses pemeriksaan berlangsung, dapur SPPG Soditan tidak melakukan aktivitas pengolahan maupun distribusi makanan seperti biasanya. Penghentian ini juga berdampak langsung terhadap puluhan relawan yang selama ini menjadi bagian dari operasional dapur.
Sebanyak 45 relawan dinyatakan diliburkan selama masa suspend. Mereka tidak mendapatkan pembayaran selama tidak masuk karena mekanisme pembayaran yang diterapkan SPPG berdasarkan jumlah kehadiran atau hari kerja.
“Tadi pagi semua relawan sudah bersih-bersih. Mereka dibayar per masuk, kalau libur tidak dihitung. Untuk sekolah penerima manfaat juga libur,” ujar Soleh.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa keputusan pembekuan tidak hanya menghentikan aktivitas dapur. Dampaknya turut dirasakan para relawan yang menggantungkan pembayaran dari kehadiran mereka dalam menjalankan pelayanan MBG.
Di tengah penghentian operasional tersebut, pihak pengelola SPPG Soditan menyatakan akan melakukan pembenahan. Mitra SPPG Soditan, Widyastuti, menyampaikan permintaan maaf kepada siswa dan guru SMAN 1 Lasem yang mengalami gangguan kesehatan.
Widyastuti mengatakan dirinya terus memantau kondisi para siswa yang masih menjalani perawatan. Ia mengaku setiap hari datang ke Puskesmas Lasem untuk menjenguk para siswa sekaligus mengetahui perkembangan kondisi mereka.
Menurut Widyastuti, evaluasi akan dilakukan terhadap seluruh proses pengolahan makanan di dapur SPPG Soditan. Pengelola juga akan memastikan pelaksanaan kegiatan kembali mengacu pada standar operasional prosedur yang telah ditetapkan.
“Kami akan melakukan evaluasi dan memastikan perintah pelaksanaan pengolahan dapur sesuai SOP selalu diperintahkan kepada Kepala SPPG,” ujarnya.
Evaluasi tersebut menjadi penting karena keamanan makanan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan program MBG. Setiap tahapan, mulai dari bahan makanan diterima hingga makanan dikonsumsi penerima manfaat, harus mendapatkan pengawasan.
Pihak SPPG Soditan juga menyatakan kesiapan untuk membantu menangani biaya pengobatan korban. Tanggung jawab biaya tersebut akan diberikan bagi korban yang tidak memperoleh perlindungan atau biaya pengobatannya tidak ter-cover BPJS Kesehatan.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab pengelola di tengah proses penanganan dugaan keracunan. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami siswa dan guru tetap menunggu hasil pemeriksaan dan penelusuran pihak terkait.
Sebelumnya, kasus tersebut mulai mencuat setelah siswa dan guru SMAN 1 Lasem mengalami gejala gangguan kesehatan. Informasi dari pihak sekolah menyebut gejala mual, muntah, dan diare muncul setelah mereka mengonsumsi makanan MBG yang diterima sehari sebelumnya.
Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Rembang. Bupati Rembang Harno juga telah mendatangi Puskesmas Lasem untuk melihat langsung kondisi siswa yang masih mendapatkan perawatan serta bertemu dengan orang tua atau wali murid.
Pemkab Rembang sebelumnya menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap prosedur penyediaan dan distribusi makanan MBG. Pemerintah daerah meminta standar operasional prosedur diterapkan secara ketat untuk memastikan makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar aman.
Pembekuan SPPG Soditan kini menjadi bagian penting dari rangkaian penanganan kasus tersebut. BGN mengambil langkah penghentian sementara sembari proses pemeriksaan terhadap sampel makanan dan evaluasi pengelolaan SPPG berlangsung.
Belum diketahui kapan SPPG Soditan akan kembali beroperasi. Keputusan tersebut masih menunggu hasil evaluasi serta surat tugas baru dari BGN.
Sementara itu, 45 relawan masih harus menunggu hingga operasional dapur dinyatakan dapat berjalan kembali. Nasib pelayanan MBG untuk sekolah penerima manfaat juga ikut terdampak selama status suspend diberlakukan.
Kasus dugaan keracunan MBG di Lasem menjadi perhatian serius karena menyangkut keamanan makanan yang dikonsumsi siswa dan guru. Hasil pemeriksaan laboratorium BBPOM serta evaluasi menyeluruh terhadap SPPG Soditan diharapkan dapat mengungkap persoalan sekaligus menjadi dasar perbaikan pelaksanaan program MBG ke depan.