Blora, MEMANGGIL.CO - Sebuah sirine tua yang berdiri di depan kompleks Pendopo Kabupaten Blora masih menjadi bagian dari tradisi masyarakat Kabupaten Blora setiap bulan Ramadan. Sirine peninggalan masa kolonial Belanda tersebut hingga kini tetap dibunyikan sebagai penanda waktu imsak dan berbuka puasa.
Sirine yang dikenal dengan bunyi khas “Nguuk” itu telah lama menjadi penanda waktu bagi warga di Kota Blora dan sekitarnya. Suaranya yang menggema dapat terdengar hingga beberapa wilayah di sekitar pusat kota.
Struktur sirine tersebut terbuat dari besi dengan tinggi sekitar 15 meter. Pada bagian puncaknya terdapat perangkat berbentuk bulatan yang berisi kumparan sebagai sumber suara sirine. Perangkat ini membutuhkan daya listrik yang cukup besar agar dapat menghasilkan bunyi yang kuat.
Pengoperasian sirine masih dilakukan secara manual menggunakan handel khusus. Cara tersebut dipertahankan untuk menjaga keamanan sistem listrik mengingat tegangan yang digunakan cukup tinggi.
Pada masa kolonial Belanda, sirine tersebut awalnya digunakan sebagai penanda keadaan darurat. Seiring berjalannya waktu, fungsi sirine kemudian berubah menjadi penanda waktu keagamaan bagi masyarakat, khususnya saat bulan Ramadan.
Sejak sekitar dekade 1970-an, sirine mulai difungsikan sebagai penanda waktu imsak dan berbuka puasa. Tradisi ini kemudian terus dipertahankan hingga sekarang sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat Blora selama menjalankan ibadah puasa.
Selain digunakan pada bulan Ramadan, sirine juga dibunyikan pada momentum tertentu seperti peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia maupun saat pergantian tahun.
Bunyi khas “Nguuk” dari sirine tersebut telah menjadi bagian dari suasana Ramadan di Blora. Suaranya yang terdengar lebih awal sering menjadi penanda bagi masyarakat bahwa waktu berbuka puasa segera tiba.
Salah satu warga Blora yang akrab disapa Ayu, mengatakan bunyi sirine tersebut masih sering terdengar jelas hingga ke wilayah tempat tinggalnya di Kelurahan Tegalgunung.
“Kalau sudah terdengar bunyi ‘Nguuk’, biasanya kami langsung tahu kalau waktu berbuka puasa sudah dekat,” ujarnya, ditulis Minggu (9/3/2026).
Ia menambahkan, bunyi sirine itu sering terdengar lebih dahulu sebelum azan magrib berkumandang dari masjid.
“Sirine berbunyi dulu, tidak lama kemudian azan magrib dari masjid,” katanya.
Di beberapa masjid, bunyi sirine bahkan dijadikan acuan sebelum mengumandangkan azan, termasuk di Masjid Agung Baitunnur Blora yang berada di kawasan alun-alun kota.
Keberadaan sirine tua tersebut kini tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga menjadi bagian dari warisan sejarah yang merekam perjalanan panjang Kota Blora dari masa kolonial hingga sekarang.
Editor : Redaksi