Semarang, MEMANGGIL.CO – Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, terus mendorong penguatan sektor pertanian dan peternakan agar Jawa Tengah mampu menjadi penghasil pangan terbaik di Indonesia.
Menurutnya, selain dikenal sebagai daerah agraris, provinsi ini juga memiliki potensi besar dalam sektor peternakan yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein nasional.
Sumanto menyampaikan bahwa potensi besar yang dimiliki Jawa Tengah harus dimanfaatkan secara optimal dengan memperkuat kelembagaan dan fasilitas penunjang di sektor peternakan.
“Dengan potensi yang besar, Jawa Tengah harus menjadi daerah penghasil pangan terbaik. Balai-balai ternak saat ini sudah kita dorong untuk direvitalisasi lewat Perda. Tentu prestasi dalam produksi pangan ini harus diimbangi dengan kesejahteraan pelaku utamanya yaitu peternak,” ujarnya.
Berdasarkan data yang ada, populasi ternak di Jawa Tengah mencapai sekitar 5,8 juta ekor. Dari jumlah tersebut, kambing mendominasi dengan populasi sekitar 3,5 juta ekor. Selain itu, populasi unggas seperti ayam petelur, ayam pedaging, ayam kampung hingga itik juga menjadi komponen penting dalam mendukung ketahanan pangan daerah.
Ia menambahkan, sektor peternakan selama ini terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat, khususnya di pedesaan. Oleh karena itu, penguatan sektor ini perlu terus dilakukan agar manfaat ekonominya semakin dirasakan oleh masyarakat luas.
Namun demikian, Sumanto mengakui adanya tantangan dalam pengembangan sektor pangan, salah satunya akibat pemangkasan dana transfer daerah dari pemerintah pusat yang berpotensi membuat sejumlah program belum berjalan maksimal.
Meski begitu, DPRD Jawa Tengah berharap sektor pertanian dan peternakan tetap menjadi prioritas karena memiliki peran penting dalam mendukung visi nasional sebagai lumbung pangan.
Politisi dari PDIP tu juga mengingatkan pentingnya kemandirian pangan. Ia mengutip pesan Presiden pertama RI, Soekarno, yang menyatakan bahwa pangan merupakan persoalan hidup dan matinya suatu bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Bung Karno saat peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang kini menjadi Institut Pertanian Bogor pada 27 April 1952.
“Jika kebutuhan pangan rakyat tidak terpenuhi, maka akan mengganggu hajat hidup banyak orang. Karena itu sektor pangan harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Di sisi lain, Sumanto juga menyoroti beberapa hambatan dalam pengembangan peternakan, salah satunya terkait ketersediaan bibit unggul. Untuk itu, ia mendorong peningkatan peran balai-balai peternakan agar mampu menjadi pusat pengembangan bibit berkualitas.
Menurutnya, balai-balai tersebut memiliki sumber daya manusia yang kompeten serta fasilitas yang memadai. Ke depan, pengelolaannya juga didorong menjadi Badan Layanan Umum (BLU) agar lebih fleksibel dan profesional dalam mengembangkan layanan bagi peternak.
DPRD Jawa Tengah sendiri telah menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang peningkatan balai pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai langkah untuk memperkuat profesionalisme pengelolaan lembaga tersebut.
Sumanto berharap dengan tersedianya bibit ternak unggul, para peternak dapat meningkatkan produksi secara mandiri. Dengan demikian, produksi daging dan susu nasional dapat meningkat sehingga ketergantungan impor dapat ditekan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kepastian harga ternak bagi para peternak. Pemerintah dinilai perlu memberikan insentif serta pendampingan agar usaha peternakan dapat memberikan keuntungan yang layak.
“Pemerintah juga perlu memberikan bimbingan dan fasilitasi kepada peternak. Jika perlu, dibentuk lembaga ekonomi seperti koperasi atau BUMDes agar peternak memiliki kekuatan ekonomi yang lebih baik,” pungkasnya. (ADV)
Editor : Redaksi