Surabaya, MEMANGGIL.CO  - Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya mengambil peran strategis dalam menjaga kondusivitas kota di awal tahun 2026.
Rektor Unitomo, Prof. Siti Marwiyah, secara resmi menginisiasi mediasi yang mempertemukan pihak Madas Sedarah dengan Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, guna mengakhiri perselisihan hukum dan sosial yang sempat memanas di masyarakat.

Mediasi yang berlangsung di lingkungan kampus Unitomo tersebut membuahkan kesepakatan damai bersejarah. Kedua belah pihak sepakat untuk mencabut laporan kepolisian di Polda Jawa Timur serta menarik tuntutan evaluasi kinerja Wakil Wali Kota yang sebelumnya dilayangkan ke DPRD.

Prof. Siti Marwiyah menjelaskan bahwa Unitomo merasa terpanggil menjadi penengah demi mencegah keretakan antargolongan di Surabaya.

Menurutnya, kampus merupakan tempat terhormat untuk mengedukasi masyarakat agar lebih memahami hukum.

"Saya meminta kepada teman-teman di Madas agar kejadian ini menjadi momentum untuk membawa organisasi ke arah pemahaman hukum yang lebih baik. Kesadaran masyarakat harus ditingkatkan bahwa hidup berdampingan itu harus berdasarkan aturan, tidak bisa lagi hanya berdasarkan perintah orang semata," ujar Prof. Siti Marwiyah, usai mediasi, Selasa (6/1/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Di sisi lain, pimpinan Madas, Taufik, menyambut baik langkah tersebut dan berkomitmen menjaga suasana sejuk di tengah masyarakat.

Sebagai bukti konkret perdamaian, kedua pihak telah menandatangani akta perdamaian, yang mencakup, pencabutan laporan Polda.

Sate Pak Rizki

Pihak pelapor setuju untuk segera mencabut laporan di Polda Jawa Timur.

Lalu penarikan tuntutan DPRD, permohonan evaluasi kinerja Wakil Wali Kota resmi ditarik.

"Ini adalah kebahagiaan luar biasa bagi saya. Perselisihan ini sempat membuat suasana Surabaya tidak kondusif di akhir tahun 2025. Dengan adanya kesepakatan ini, polemik tersebut resmi berakhir," terang Prof. Siti Marwiyah.

Menanggapi isu netralitas kampus, Prof. Siti menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat. Ia meyakini keterlibatan Unitomo dalam mendamaikan konflik antarkelompok justru akan meningkatkan citra positif kampus di mata publik.

"Unitomo ingin mengambil bagian dalam menjaga Surabaya agar tidak ada keretakan antar-kelompok maupun antar-suku. Kami membuktikan bahwa kampus mampu menjadi penengah yang netral dan solutif," pungkas Prof. Siti Marwiyah.