Blora, MEMANGGIL.CO - Alun-alun Blora menjadi saksi kebersamaan ratusan kepala desa, perangkat desa, dan masyarakat dalam Kenduri Desa yang digelar Pemerintah Kabupaten Blora, Senin (12/1/2026).
Tradisi yang sarat makna ini digelar dalam rangka memperingati Hari Desa 2026, sekaligus menjadi ruang refleksi dan penguatan komitmen bersama untuk membangun desa secara berkelanjutan.
Di bawah langit Blora, kenduri diawali dengan doa bersama yang dipimpin Ketua Baznas Kabupaten Blora, H. Sutaat. Suasana khidmat menyelimuti alun-alun, menjadi ungkapan rasa syukur atas ditetapkannya Hari Desa sebagai peringatan nasional, sekaligus doa agar desa tetap menjadi fondasi kokoh pembangunan bangsa.
Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Blora, Agung Heri Susanto, menyampaikan bahwa Kenduri Desa bukan sekadar seremoni, tetapi simbol kuat kebersamaan desa-desa di Blora.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2026 di Jawa Tengah, yang puncak acaranya dipusatkan di Kabupaten Boyolali pada 15 Januari 2026, dengan Blora turut menyemarakkan peringatan tersebut.
“Kenduri Desa ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus ajakan kepada seluruh kepala desa, perangkat desa, BPD, dan lembaga desa untuk terus membangun desa sesuai arahan Presiden Prabowo,” ungkap Agung Heri.
Nuansa reflektif semakin terasa saat pembacaan “Puisi Harapan Desa” oleh perwakilan kepala desa. Kata-kata sederhana namun penuh makna menggambarkan harapan akan desa yang mandiri, berdaya, dan sejahtera.
Puisi tersebut kembali dibacakan oleh Agung Heri Susanto sebagai penegasan mimpi bersama untuk masa depan desa-desa di Kabupaten Blora.
Bupati Blora, H. Arief Rohman, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh kepala desa dan perangkat desa atas dedikasi dan pengabdiannya dalam melayani masyarakat.
“Terima kasih kepada seluruh kepala desa dan perangkat desa di Kabupaten Blora atas dedikasi dan pengabdiannya selama ini,” ujar Gus Arief, panggilannya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Arief menegaskan bahwa hak-hak aparatur desa tetap menjadi perhatian pemerintah daerah. Ia memastikan bahwa Tunjangan Hari Raya (THR) bagi kepala desa, sekretaris desa, dan perangkat desa tetap diberikan sesuai pendapatan tetap desa tanpa pengurangan.
Gus Arief juga menjelaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden. Dampaknya, sejumlah kegiatan pemerintahan, termasuk rapat, dilaksanakan secara sederhana.
“Efisiensi anggaran ini kami jalankan dengan sungguh-sungguh. Dalam rapat, tidak lagi disediakan konsumsi, kecuali air putih,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Arief mengajak seluruh desa di Blora untuk berperan aktif mendukung program nasional, di antaranya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Di Blora, bahan baku MBG diarahkan disuplai melalui koperasi desa dengan melibatkan peran Ibu PKK dalam pengelolaan sayuran, serta TPS3R dalam pengelolaan sampah agar memiliki nilai ekonomi.
Tak hanya itu, Gus Arief juga menyampaikan keberlanjutan Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi kepala desa dan perangkat desa. Setelah sebelumnya diikuti 275 peserta dan sebagian dinyatakan lulus, program ini akan kembali dilanjutkan pada tahun 2026 bekerja sama dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES).
“Tahun ini kami siapkan kuota 250 peserta dengan subsidi biaya sebesar 30 persen. Harapannya, kualitas SDM kepala desa dan perangkat desa terus meningkat,” tambahnya.
Dalam kerangka ketahanan pangan, Gus Arief menegaskan dukungan terhadap pengembangan perkebunan organik. Program ini diarahkan untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus memperkuat ekonomi desa, dengan melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan seperti NU, Muhammadiyah, dan LDII.
“Kami ingin Blora menjadi kabupaten organik. Untuk itu, saya mengajak seluruh kepala desa menjaga kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Di tengah suasana kebersamaan, Kenduri Desa juga diwarnai aksi solidaritas. Penggalangan dana dilakukan untuk membantu korban bencana banjir di Sumatera, sebagai wujud kepedulian masyarakat Blora terhadap saudara sebangsa yang tengah tertimpa musibah.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Kemendes, H. Tabrani, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menilai Kenduri Desa sebagai momentum strategis pembangunan desa.
“Pembangunan desa harus dimulai dari bawah. Inilah kunci pertumbuhan ekonomi yang merata dan upaya pemberantasan kemiskinan sesuai arahan Presiden,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa program nasional seperti MBG, Koperasi Desa Merah Putih, dan Sekolah Rakyat telah memberi dampak nyata bagi perekonomian desa, khususnya di sektor pangan dan peternakan. Gagasan desa tematik organik yang dikembangkan di Blora pun mendapat apresiasi dari Kemendes PDTT.
Menutup rangkaian kegiatan, sejumlah desa di Kabupaten Blora menerima penghargaan Indeks Prestasi Pembangunan Desa sebagai bentuk apresiasi atas kinerja dan inovasi dalam membangun desa.
Penghargaan tersebut menjadi penanda bahwa desa-desa di Blora terus bergerak, tumbuh, dan berbenah.
Kenduri Desa di Alun-alun Blora hari itu bukan sekadar peringatan Hari Desa. Ia menjadi ruang perjumpaan nilai tradisi, doa, kebijakan, dan harapan, tempat desa-desa di Blora menyatukan langkah menuju masa depan yang lebih mandiri, berdaya, dan sejahtera.