Tuban, MEMANGGIL.CO – Di balik usia pernikahan yang masih seumur jagung, seorang pengantin baru di Kabupaten Tuban justru harus berhadapan dengan jeruji besi.

Himpitan ekonomi menjadi alasan utama yang mendorong SN (36), nekat mencuri kabel milik PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) di Desa Merkawang, Kecamatan Tambakboyo.

Pemuda asal warga Desa Mliwang, Kecamatan Kerek, Tuban, itu tak sendiri. Ia menjalankan aksinya bersama KP (42), rekan kerjanya yang juga merupakan warga setempat. 

"Kedua pelaku diketahui bekerja di area pabrik tersebut," ungkap Humas Polres Tuban, IPTU Siswanto, Selasa (13/1/2026).

Ia menjelaskan peristiwa itu bermula saat kedua pelaku menjalani sif kedua. Di tengah rutinitas kerja, niat gelap itu muncul. 

"Dengan memanfaatkan akses dan situasi yang sudah mereka kenal, keduanya merencanakan pencurian kabel grounding," jelas Siswanto.

Menurutnya, kedua pelaku dalam aksinya nenggunakan alat yang telah dipersiapkan. Lalu kabel berukuran 1x95 milimeter itu dicongkel, dan dipotong. 

"Kabel disembunyikan ke dalam tas punggung untuk dibawa keluar dari area pabrik," tambah Humas Polres Tuban.

Aksi mereka baru terendus keesokan harinya. Para pekerja mendapati kabel di lokasi kejadian telah raib.

"Laporan kasus pencurian itu pun dibuat, baik ke internal perusahaan maupun ke pihak kepolisian," jelasnya.

Sate Pak Rizki

Tak butuh waktu lama, Humas Polres Tuban membeberkan penyelidikan dilakukan. Polisi bersama tim keamanan perusahaan menelusuri setiap petunjuk, hingga akhirnya rekaman kamera CCTV menjadi kunci utama pengungkapan kasus ini.

"Dari rekaman tersebut, gerak-gerik kedua pelaku terlihat jelas. Kedua pelaku beserta barang bukti kabel grounding sepanjang sekitar 15 meter telah kami amankan,” terang Siswanto.

Ia menambahkan kerugian yang dialami perusahaan plat merah yang merupakan anak usaha PT Semen Indonesia itu ditaksir mencapai Rp 9.180.000. Selain kabel, polisi juga mengamankan flashdisk berisi rekaman CCTV sebagai barang bukti pendukung.

Dalam pemeriksaan, terungkap alasan yang menyayat. SN mengaku nekat mencuri karena terdesak kebutuhan ekonomi. 

Sebagai pengantin baru, ia membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pengakuan itu menjadi potret getir di balik peristiwa kriminal yang terjadi di ring satu pabrik skala nasional tersebut. Namun demikian, aparat menegaskan bahwa alasan ekonomi tak bisa menjadi pembenaran atas perbuatan melawan hukum. 

Hingga kini, polisi masih mengembangkan kasus tersebut untuk menelusuri keberadaan pengepul yang diduga menjadi tujuan penjualan kabel hasil curian.

"Kasus masih terus dikembangkan," pungkasnya.