Pati, MEMANGGIL.CO - Air datang tanpa aba-aba. Sungai Silugonggo yang membelah wilayah Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, perlahan meluap, mengubah halaman rumah menjadi genangan, dan jalan desa menjadi aliran air. Selasa (13/1/2026) pagi, sebagian warga Desa Jepuro terbangun dengan kenyataan pahit lantaran banjir kembali menyapa.
Di tengah situasi itu, Babinsa Desa Jepuro, Serka Muhdi Kusno dari Koramil 02/Juwana, tak tinggal diam. Sejak dini hari, ia turun langsung memantau perkembangan debit air Sungai Silugonggo yang terus meningkat akibat curah hujan tinggi di wilayah hulu. Pemantauan dilakukan menyisir titik-titik rawan, sembari memastikan kondisi warga tetap terpantau.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan ketinggian air bervariasi. Di beberapa titik genangan masih setinggi 15 sentimeter, namun di wilayah yang lebih rendah, air mencapai hingga satu meter dan mulai memasuki rumah-rumah warga. Aktivitas warga lumpuh. Perabotan terpaksa dipindahkan, anak-anak digendong, dan lansia harus dibantu keluar dari rumah.
Melihat kondisi tersebut, Babinsa bersama perangkat desa dan unsur terkait segera bergerak. Evakuasi dilakukan secara bertahap, memprioritaskan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan warga yang sakit. Beberapa warga dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, sementara lainnya memilih bertahan dengan pengawasan ketat.
Danramil 02/Juwana, Kapten Inf Eko Cahyono, yang mewakili Dandim 0718/Pati, menegaskan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan sekadar tugas formal, melainkan bentuk tanggung jawab kemanusiaan.
“Kami terus melakukan pemantauan wilayah dan membantu warga terdampak banjir. Saat ini, warga Desa Jepuro sangat membutuhkan bantuan sembako dan ransum untuk memenuhi kebutuhan dasar selama masa pengungsian,” ujar Kapten Eko Cahyono.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada, mengingat potensi kenaikan debit air susulan masih terbuka, terutama jika hujan kembali turun di wilayah hulu.
“Kami mengimbau warga mengikuti arahan petugas di lapangan dan tidak memaksakan diri bertahan di lokasi yang berisiko. Keselamatan adalah yang utama,” tegasnya.
Bagi warga Jepuro, kehadiran Babinsa dan aparat TNI menjadi penopang moral di tengah kondisi sulit. Tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberi rasa aman bahwa mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian.
Kegiatan pemantauan dan bantuan ini menjadi gambaran nyata sinergi TNI dengan pemerintah desa dan instansi terkait dalam penanggulangan bencana. Di saat air menggenangi rumah dan harapan warga sempat terendam, kehadiran aparat di lapangan menjadi bukti bahwa negara tetap hadir, bahkan di sudut desa yang sedang diuji bencana.
Banjir mungkin belum sepenuhnya surut. Namun dengan gotong royong, kewaspadaan, dan kepedulian bersama, warga Desa Jepuro perlahan bangkit, menunggu hari ketika air kembali ke sungai, dan kehidupan kembali berjalan normal.