Boyolali, MEMANGGIL.CO - Di tengah semangat peringatan Hari Desa 2026 Tingkat Nasional yang digelar di Kabupaten Boyolali, Kabupaten Blora menorehkan catatan membanggakan. Bukan satu, bukan dua, melainkan tiga penghargaan nasional berhasil diboyong sekaligus. Sebuah penegasan bahwa pembangunan dari akar rumput, dari desa, benar-benar bergerak dan berdampak.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung RI, Prof. Dr. Reda Manthovani, bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Yandri Susanto, di hadapan perwakilan pemerintah daerah dari seluruh Indonesia.

Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, tak menyembunyikan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Ia menyebut prestasi ini sebagai buah dari kerja bersama, bukan hasil satu pihak semata.

“Alhamdulillah, hari ini Kabupaten Blora memborong tiga prestasi nasional dalam Peringatan Hari Desa 2026,” ujar Gus Arief, panggilannya ditulis Kamis (15/1/2026). 

Salah satu penghargaan prestisius diberikan kepada Bupati Blora sebagai Kepala Daerah Inovatif dalam Pengembangan Desa Tematik Ketahanan Pangan Padi Organik menuju Blora Kabupaten Organik.

Penghargaan ini menegaskan arah kebijakan Blora yang konsisten mendorong pertanian berkelanjutan berbasis desa.

Menurut Gus Arief, desa bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek utama perubahan.

“Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, tetapi untuk seluruh masyarakat Kabupaten Blora yang terus bergerak dan berinovasi dari desa,” tegasnya.

Tak hanya di level kabupaten, prestasi juga datang dari desa-desa yang menjadi motor perubahan. Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban, meraih penghargaan sebagai Desa Inovatif Tematik Pengembang Pertanian Organik.

Desa ini dinilai berhasil mengembangkan praktik pertanian organik yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada kesejahteraan warganya.

Sementara itu, Desa Geneng, Kecamatan Jepon, menorehkan prestasi sebagai Juara 2 Lomba Inovasi Desa Ramah Perempuan, Peduli Anak, dan Pendidikan.

Sebuah bukti bahwa pembangunan desa tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga keberpihakan pada kelompok rentan dan masa depan generasi muda.

Sate Pak Rizki

Bagi Gus Arief, capaian ini menjadi bukti bahwa desa-desa di Blora mampu bersaing di tingkat nasional dengan kekhasan dan inovasi masing-masing.

“Prestasi ini kami persembahkan untuk seluruh warga masyarakat Kabupaten Blora. Terima kasih atas kebersamaan dan semangat gotong royong yang terus terjaga,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh perangkat daerah dan stakeholder yang selama ini bersinergi, mulai dari dinas terkait hingga pendamping desa, yang terus mengawal program pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat.

“Terima kasih kepada seluruh dinas terkait dan para stakeholder yang tanpa lelah mendukung program pembangunan Kabupaten Blora,” tambahnya.

Lebih dari sekadar piala dan piagam, Gus Arief berharap penghargaan ini menjadi pemantik semangat baru. Ia ingin desa-desa di Blora tidak cepat berpuas diri, tetapi terus melahirkan gagasan dan terobosan.

“Semoga penghargaan ini bisa menginspirasi kita semua untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam pembangunan daerah,” katanya.

Narasi besar yang terus diusung Blora pun kembali ditegaskan, yakni pembangunan harus dimulai dari desa, oleh desa, dan untuk Indonesia.

“Dari Desa untuk Indonesia,” ucap Arief Rohman menutup pernyataannya dengan penuh optimisme.

Dengan semangat Nyawiji mBangun Blora Akur Makmur Misuwur dan Sesarengan mBangun Blora Maju dan Berkelanjutan, capaian di Hari Desa 2026 ini menjadi pengingat bahwa ketika desa diberi ruang, kepercayaan, dan pendampingan, maka prestasi nasional bukan lagi mimpi.