Surabaya, MEMANGGIL.CO – Pandangan negatif mengenai mahasiswa aktivis yang dinilai sulit lulus tepat waktu dan berprestasi rendah resmi dipatahkan oleh Ni Kadek Ayu Wardani, S.T. Lulusan Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang kini menjabat sebagai Ketua DPC GMNI Surabaya Raya ini membuktikan bahwa dedikasi organisasi dan prestasi akademik dapat berjalan selaras.
Kadek, sapaan akrabnya, resmi menyandang gelar Sarjana Teknik (S.T) di tengah kesibukannya memimpin organisasi mahasiswa besar.
Baginya, keterlibatan dalam dunia pergerakan bukan merupakan penghambat, melainkan "laboratorium karakter" yang melengkapi teori di ruang kelas.
Puncak kesibukan Kadek terjadi pada tahun 2023, di mana ia mengemban empat tanggung jawab organisasi sekaligus. Selain aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kebangsaan.
Perempuan berparas ayu ini juga dipercaya sebagai Bendahara Himpunan Mahasiswa Teknik Industri.
Meski jadwal organisasinya padat, Kadek tetap menunjukkan taji di dunia profesional dengan menyelesaikan program magang di dua perusahaan besar, yakni PT Bogasari Flour Mills dan PT Kerta Rajasa Raya pada tahun 2024.
"Pengalaman di luar kelas memberikan pembelajaran menyeluruh yang melengkapi pengetahuan akademik. Kita diajak mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat," kata Kadek, pada , Senin, 16 Februari 2026.
Terpilih sebagai Ketua DPC GMNI Surabaya Raya periode 2025–2027 melalui Konfercab XXIV tidak membuat Kadek berpuas diri. Sebagai kader yang memegang teguh ideologi Marhaenisme.
Ia berencana melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana (S2) dengan cita-cita menjadi seorang dosen.
Menurutnya, jalur intelektual adalah sarana strategis untuk menyuarakan amanah penderitaan rakyat.
"Marhaenisme bukan sekadar warisan masa lalu, tapi komitmen abadi untuk mengangkat derajat rakyat kecil. Perjuangan ini harus dilanjutkan melalui kontribusi yang lebih mendalam, termasuk di ranah akademik," tandasnya.
Menanggapi kekhawatiran orang tua terhadap anak yang aktif berorganisasi, Kadek menekankan bahwa masa kuliah adalah fase emas untuk membentuk kemandirian.
Ia juga meyakini kemampuan public speaking, kepemimpinan, dan jejaring sosial adalah bekal yang tidak didapatkan secara penuh hanya dengan duduk di bangku kuliah.
Ia berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tidak takut untuk berproses. Dengan manajemen waktu yang efektif, seorang aktivis justru dinilai memiliki mental yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun pengabdian sosial di masa depan.