Blora, MEMANGGIL.CO - Kasus tragis yang menewaskan seorang siswa sekolah dasar di Desa Ketringan, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menjadi perhatian publik. Fakta baru terungkap dari keterangan warga setempat.
Korban diketahui bernama Miko Alviansyah, siswa kelas 4 SDN 3 Ketringan, yang meninggal dunia usai mengalami ledakan petasan pada Selasa sore (24/3/2026). Sebelumnya, korban sempat dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat, namun nyawanya tidak tertolong.
Sejumlah informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa bermula saat korban menemukan petasan berukuran besar di wilayah Dukuh Ngapus, Desa Ketringan.
Seorang warga setempat, Khusaini, mengungkapkan bahwa petasan tersebut diduga merupakan barang yang sebelumnya dibuang oleh seseorang karena gagal dinyalakan saat perayaan Lebaran.
“Katanya mercon yang dibuang orang, karena tidak nyala-nyala saat Lebaran kemarin, entah siapa (yang membuang),” ujarnya pada Memanggil.co, Selasa malam (24/3/2026).
Menurutnya, petasan tersebut kemudian ditemukan oleh korban. Tanpa mengetahui tingkat bahaya yang terkandung, korban mencoba menyalakan kembali mercon tersebut.
“Nah ditemu bocah itu, dan mencoba disumet (dinyalakan), tapi gak nyala-nyala,” lanjutnya.
Upaya korban untuk menyalakan petasan itulah yang diduga berujung pada ledakan fatal hingga merenggut nyawanya.
Sebelumnya diberitakan, Kasat Reskrim Polres Blora, Zaenul Arifin, membenarkan adanya peristiwa tersebut.
Pihak kepolisian hingga kini masih melakukan pendalaman untuk memastikan kronologi lengkap serta asal-usul petasan yang digunakan korban.
“Nggih (benar), niki bade komunikasi kalih Polsek Jiken,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, pihaknya akan memberikan informasi lanjutan setelah proses komunikasi dan penyelidikan selesai dilakukan.
Peristiwa ini sebelumnya juga sempat ramai diperbincangkan di media sosial, termasuk unggahan belasungkawa dari pihak sekolah korban yang mengonfirmasi bahwa korban meninggal dunia pada Selasa, 24 Maret 2026.
Kasus ini kembali menjadi pengingat akan bahaya penggunaan petasan, terutama yang tidak terkontrol dan berasal dari sumber yang tidak jelas. Selain berisiko tinggi, petasan yang gagal meledak dan kemudian dibuang justru dapat menjadi ancaman serius jika ditemukan dan dimainkan oleh anak-anak.
Hingga saat ini, aparat kepolisian masih menelusuri kemungkinan adanya unsur kelalaian, termasuk pihak yang pertama kali membuang petasan tersebut ke lokasi tempat korban menemukannya.