Surabaya, MEMANGGIL.COTragedi kemanusiaan di pusat Surabaya berubah arah. Bukan duka yang mendominasi, melainkan kerumunan yang menjadikannya tontonan. Dampaknya nyata: Jalan Basuki Rahmat lumpuh total pada Minggu dini hari (3/5/2026).

Sekitar pukul 00.32 WIB, ruas yang biasanya mulai lengang justru dipadati kendaraan. Arus lalu lintas tersendat hingga nyaris tak bergerak. Penyebabnya bukan aktivitas ekonomi atau agenda kota, melainkan gelombang warga yang datang berbondong-bondong ke Hotel Goldvitel lokasi seorang pria diduga mengakhiri hidup sehari sebelumnya.

Fenomena ini memunculkan wajah lain kota: rasa penasaran yang mengalahkan empati. Pengendara tidak sekadar melintas. Banyak yang sengaja memperlambat laju kendaraan, berhenti sejenak, bahkan membuka kaca untuk mengintip lokasi kejadian.

Efeknya meluas. Kemacetan menjalar ke Jalan Urip Sumoharjo hingga Jalan Panglima Sudirman. Titik-titik simpul lalu lintas berubah menjadi antrean panjang tanpa kendali.

“Dengar dari tetangga, langsung ke sini. Tapi malah terjebak macet,” ujar Rohman, warga Pandegiling.

Peristiwa yang memicu kerumunan itu terjadi pada Sabtu pagi (2/5/2026). Seorang pria dilaporkan melompat dari ketinggian hotel dan jatuh di atas mobil yang terparkir. Insiden tersebut meninggalkan kerusakan fisik sekaligus trauma bagi saksi mata. Namun di sisi lain, kabar itu justru menyebar cepat dan mengundang massa.

Sate Pak Rizki

Aparat kepolisian bersama dinas terkait tampak kewalahan. Upaya penguraian kemacetan berjalan di tengah derasnya arus warga yang terus berdatangan, bahkan saat waktu telah memasuki dini hari.

Kondisi ini menegaskan persoalan yang lebih dalam dari sekadar kemacetan. Kota tidak hanya menghadapi gangguan lalu lintas, tetapi juga krisis sensitivitas sosial. Tragedi yang seharusnya menjadi ruang hening justru berubah menjadi magnet keramaian.

Ketika rasa ingin tahu mengalahkan empati, jalan raya menjadi panggung dan duka kehilangan maknanya.