Blora, MEMANGGIL.CO - Banyak orang mengira nama Jepon, Ngawen, Panolan, Karangjati, atau Randublatung baru muncul setelah Indonesia merdeka. Padahal, nama-nama itu telah hidup jauh sebelum republik ini berdiri dan tumbuh bersama sejarah panjang Blora.

Mengutip kajian Sunardi, pada masa pemerintahan Sultan Agung antara tahun 1613 hingga 1645, Kerajaan Mataram melakukan pembagian wilayah untuk memperkuat sistem pemerintahan.

Wilayah kerajaan dibagi menjadi Kutagara, Negara Agung, Mancanegara, dan Pesisiran. Dalam pembagian tersebut, Blora masuk ke dalam kawasan Mancanegara Timur.

Penetapan itu menunjukkan bahwa Blora telah memiliki posisi administratif yang jelas dalam struktur kerajaan. Meski jauh dari pusat pemerintahan, keberadaan wilayah ini tetap diperhitungkan.

Tidak lama kemudian, perubahan kembali terjadi. Pada masa pemerintahan Paku Buwana I, Blora diberikan kepada putranya, Pangeran Blitar, sebagai tanah apanage.

Dalam tulisan Sunardi disebutkan bahwa luas Blora kala itu mencapai sekitar 3.000 karya, atau setara dengan sekitar 2.250 hektare.

Pada masa itu, tanah bukan sekadar ruang geografis.  Melainkan adalah kekuasaan, sumber kehidupan, dan jaminan keberlangsungan sebuah keluarga.

Sementara para bangsawan mengatur wilayah dari pusat kerajaan, masyarakat Blora tetap menjalani keseharian mereka.

Sate Pak Rizki

Di tepian hutan, mereka membuka lahan. Sedangkan di persawahan, mereka menanam padi. Sementara di ladang, mereka menunggu musim panen dengan harapan hasil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dari kehidupan sederhana itulah desa-desa mulai tumbuh. Permukiman berkembang dan tradisi diwariskan dengan nilai gotong royong yang terbentuk.

Anak-anak belajar dari orang tuanya tentang bagaimana menghormati alam dan bertahan dalam segala keadaan.

Mungkin mereka tidak pernah menyangka bahwa desa-desa kecil yang mereka bangun dengan susah payah akan bertahan selama ratusan tahun.

Bahwa Jepon, Ngawen, Panolan, atau Karangjati akan tetap dikenal hingga abad ke-21. Tetapi begitulah sejarah bekerja. Ia tidak hanya ditulis oleh para raja dan juga dibangun oleh rakyat biasa yang menjaga kehidupan tetap berjalan.

Karena sejatinya, identitas sebuah daerah tidak hanya lahir dari keputusan penguasa. Ia tumbuh dari ingatan masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.