Tuban, MEMANGGIL.CO - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung meninjau kesiapan Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi I Kabupaten Tuban setelah pembangunan gedung sekolah tersebut mengalami keterlambatan dari target yang telah ditentukan.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana menjelang pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) serta proses pembelajaran bagi siswa baru yang dijadwalkan mulai berlangsung pada awal Agustus 2026.
Saat melakukan peninjauan, Gubernur Khofifah juga sempat memberikan respons terkait pembangunan Sekolah Rakyat Tuban yang molor. Ketika ditanya awak media mengenai keterlambatan proyek, Gubernur Jawa Timur itu menjawab dengan santai.
"Opo sih rek, mben, mben, mben. Nanti malam sudah loading barang, suwun yo," ujar Khofifah, Rabu (29/7/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Khofifah melihat sejumlah fasilitas yang tersedia di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Tuban. Ia mengapresiasi sarana pendidikan yang telah disiapkan untuk mendukung proses pembelajaran siswa.
Menurutnya, keberadaan fasilitas harus didukung dengan ekosistem pendidikan yang kuat agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas.
"Harapan kita ekosistemnya nantinya akan ke-support. Mulai dari kepala sekolah, guru-guru, lab dan semuanya bisa memberikan peluang tumbuh kembang bagi penyiapan proses untuk menghasilkan SDM yang kualitatif, berkarakter dan memiliki integritas yang tinggi," ungkapnya.
Gubernur Jatim dua periode itu menegaskan, penyelenggaraan Sekolah Rakyat merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan.
Sementara itu, pembangunan Sekolah Rakyat Tuban yang dikerjakan PT Waskita Karya sebelumnya ditargetkan selesai pada 20 Juni 2026.
Namun hingga akhir Juli 2026, proyek yang berdiri di atas lahan sekitar tujuh hektare milik Pemerintah Kabupaten Tuban tersebut masih dalam tahap pengerjaan.
Keterlambatan pembangunan tersebut membuat tim dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) turun langsung melakukan pemantauan terhadap progres pekerjaan.
PT Waskita Karya
Koordinator Wilayah Pembangunan Sekolah Rakyat Tuban dari PT Waskita Karya, Agus Saputra, saat dikonfirmasi terkait perkembangan pembangunan belum memberikan penjelasan mengenai penyebab keterlambatan.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Kabupaten Tuban, Vera Khairun Nissa, menyampaikan jumlah peserta didik Tahun Ajaran 2026/2027 terdiri dari jenjang SD sebanyak 16 siswa, SMP sebanyak 90 siswa, dan SMA sebanyak 90 siswa. Selain itu, terdapat 60 siswa SMA titipan dari Sekolah Rakyat Bojonegoro.
"SD ada 16 anak, SMP 90, SMA 90. Titipan dari SR Bojonegoro SMA 60 siswa," jelas Vera.
Ia mengatakan, siswa baru akan mulai masuk sekolah pada akhir Juli dengan menyesuaikan kondisi gedung yang sudah siap digunakan.
"Mulai akhir Juli dimulai dengan MPLS terlebih dahulu untuk siswa baru. Pembelajaran untuk siswa eksisting mulai awal Agustus," katanya.
Proyek Rp1,1 Triliun
Sebagai informasi, Sekolah Rakyat Tuban dirancang dengan konsep pendidikan berasrama dan memiliki kapasitas sekitar 1.000 siswa mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Pembangunan tersebut merupakan bagian dari Program Sekolah Rakyat Provinsi Jawa Timur I yang didanai melalui APBN Tahun Anggaran 2026.
Paket pekerjaan senilai sekitar Rp1,1 triliun tersebut mencakup pembangunan Sekolah Rakyat di lima daerah, yakni Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Tuban, Kabupaten Sampang, dan Kabupaten Jombang.