Jombang, MEMANGGIL.CO - Pembenahan Nahdlatul Ulama (NU) menurut KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam harus dimulai dari karakter pengurus. Ia menawarkan tiga prinsip yang bersumber dari nilai kepesantrenan sebagai pijakan NU memasuki abad kedua.

Tiga prinsip itu adalah ruh al-maad, ruh al-jihad dan ruh al-himmah.

Gagasan tersebut disampaikan Gus Salam dalam wawancara khusus pada hari Muktamar ke-35 NU saat menerima silaturahmi di kediamannya, Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jumat (28/8/2026). 

Ruh pertama adalah ruh al-maad atau jiwa kepesantrenan.

"Semua langkah-langkah yang kita lakukan harus berdasarkan ilmu, konsisten dengan keilmuan, dan kemudian akhlakul karimah," ujar Gus Salam.

Menurutnya, prinsip tersebut harus terlihat dalam perilaku pengurus NU.

"Pengurus NU, PBNU, harus memberikan teladan yang nyata," katanya.

Teladan yang dimaksud meliputi kesederhanaan, komitmen terhadap bangsa dan agama, serta akhlakul karimah.

Ruh kedua adalah ruh al-jihad.

Gus Salam memaknainya sebagai daya juang untuk menghadapi tantangan sekaligus menjaga independensi organisasi.

"Kita hidup harus berani untuk menghadapi tantangan dan menjaga independensi," tegasnya.

Dalam konteks tersebut, NU juga membutuhkan penguatan nalar kritis.

"Kita tidak boleh menjadi stempel pemerintah," ujarnya.

Sementara ruh ketiga adalah ruh al-himmah atau jiwa pengabdian.

Menurut Gus Salam, pengabdian tidak boleh digunakan untuk mengejar kepentingan pribadi.

"Ketika orang mengabdi, maka dia memahami tidak boleh mendahulukan interest pribadi," katanya.

Kepentingan umat dan organisasi harus ditempatkan sebagai prioritas.

"Dengan ruhul himmah, dengan jiwa pengabdian, akan muncul apa yang namanya integritas," tuturnya.

Tiga prinsip tersebut menurut Gus Salam menjadi bagian dari agenda pembenahan NU agar organisasi kembali kuat secara moral, independen dalam bersikap dan konsisten mengabdi kepada umat.