Jombang, MEMANGGIL.CO - Regenerasi menjadi tantangan penting Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, menilai NU harus memberi ruang lebih besar kepada generasi milenial dan Gen Z.
Menurutnya, kaderisasi tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang lebih muda. Kader juga harus mampu memahami karakter dan tantangan zaman.
"Yang bisa menjawab tantangan zaman," ujar Gus Salam, Jumat (28/8/2026).
Ia mengatakan generasi muda membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi psikologis dan sosial mereka.
"Bagaimana NU ini juga diterima dengan baik di generasi milenial maupun Gen Z," katanya.
Menurut Gus Salam, kemampuan memahami generasi muda lebih mungkin dimiliki oleh kader yang tidak terpaut terlalu jauh dari mereka.
"Yang mampu memahami psikis dan tantangan zaman, model beragama apa yang diinginkan generasi hari ini, itu ada pada orang-orang yang tidak terpaut jauh umurnya," ujarnya.
Karena itu, NU membutuhkan kreativitas dan inovasi.
"Butuh kreativitas, butuh inovasi, butuh harmoni," tuturnya.
Ia ingin anak muda memahami bahwa menjadi kader NU tidak berarti harus meninggalkan profesi.
"Semuanya ini bisa berprofesi apa pun, namun juga sambil ber-NU," katanya.
Gus Salam juga mendorong pelibatan generasi muda dalam proses kebijakan organisasi.
"Kita sudah libatkan lebih dalam lagi kepada generasi-generasi untuk terlibat dalam kebijakan-kebijakan NU," ujarnya.
Pendekatan baru juga dapat dilakukan melalui keterlibatan influencer dan kegiatan yang dekat dengan minat anak muda.
"Kita melibatkan influencer, kita mengadakan agenda-agenda yang mungkin disukai oleh pemuda generasi saat ini," ungkapnya.
Namun, seluruh inovasi tetap harus berada dalam koridor nilai yang diwariskan pendiri NU.
"Tidak keluar dari nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh para pendiri," tegasnya.