Jombang, MEMANGGIL.CO - Nahdlatul Ulama (NU) dituntut melakukan transformasi agar tetap relevan memasuki abad kedua. Namun, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, mengingatkan ada batas yang tidak boleh dilewati dalam proses perubahan tersebut.

Akhlak dan etika, menurut Gus Salam, harus tetap menjadi fondasi utama.

"Dengan usia yang sudah cukup matang ini, yang harus kita perhatikan adalah situasi dan salah satu relevansinya adalah dengan transformasi," ujarnya, Jumat (28/8/2026). 

Namun transformasi tidak boleh membuat NU kehilangan identitas.

"Ormas NU adalah ormas yang landasannya adalah nilai-nilai," katanya.

Karena itu, perubahan harus tetap berpegang pada nilai.

"Transformasinya juga tidak bisa meninggalkan nilai-nilai itu, akhlak, kemudian etika. Itu yang prinsip," tegas Gus Salam.

Ia mengingatkan semangat awal NU adalah membangun kebersamaan dan persatuan di antara ulama.

"Salah satu inspirasinya berdirinya NU ini kan untuk menjalin kebersamaan dan kekompakan, persatuanlah di antara ulama," tuturnya.

Nilai tersebut harus diterjemahkan menjadi organisasi yang solid.

"Terus membangun jamiyah yang solid dan kompak," katanya.

Menurut Gus Salam, transformasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menemukan cara baru agar nilai lama tetap hidup dalam kondisi zaman yang berubah.

Dengan cara tersebut, NU dapat berkembang mengikuti perubahan teknologi, pola komunikasi dan karakter generasi baru tanpa kehilangan identitas kepesantrenan yang menjadi salah satu akar kekuatannya.