Jombang, MEMANGGIL.CO - Muktamar NU ke-35 belum menentukan bagaimana Ketua Umum PBNU akan dipilih. Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar NU ke-35, Prof Dr Ir H Mohammad Nuh, menyebut terdapat dua alternatif yang tengah dibahas, yakni mempertahankan sistem voting atau menggunakan mekanisme musyawarah melalui Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).
Menurut M Nuh, pembahasan mengenai dua skema tersebut menjadi bagian dari agenda Komisi Organisasi Muktamar NU ke-35. Forum pembahasan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
“Ada dua opsi,” ujar M Nuh kepada wartawan, Sabtu (29/8/2026).
Ia menegaskan belum ada keputusan mengenai pilihan mekanisme yang akan digunakan untuk menentukan Ketua Umum PBNU.
Skema voting merupakan mekanisme yang telah digunakan dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU sebelumnya. Dalam pola tersebut, bakal calon terlebih dahulu memperoleh usulan dari PCNU, PWNU dan PCINU.
Nama yang memperoleh dukungan minimal 99 suara kemudian harus mendapatkan restu dari Rais Aam terpilih. Setelah tahapan tersebut terpenuhi, kandidat dikembalikan kepada peserta muktamar untuk dipilih melalui pemungutan suara.
“Yang sudah berlangsung, dipilih setelah diusulkan oleh PC, PW, PCINU, diambil suara minimal 99,” terang Nuh.
Tahapan tersebut kemudian berlanjut dengan persetujuan Rais Aam sebelum dilakukan voting oleh muktamirin.
Menurut Nuh, mekanisme tersebut mencerminkan prinsip one man one vote. Artinya, peserta yang memiliki hak suara dapat menentukan pilihan melalui pemungutan suara dalam forum muktamar.
Berbeda dengan skema tersebut, alternatif kedua menempatkan Ahwa sebagai pihak yang melakukan pemilihan melalui musyawarah. Usulan mekanisme ini sebelumnya muncul dalam Munas dan Konbes NU di Ploso.
“Tapi di Munas-Konbes kemarin ada usulan yang lain. Yang memilih itu adalah Ahwa,” kata Nuh.
Mekanisme tersebut tetap berkaitan dengan posisi Rais Aam terpilih yang memberikan pertimbangan atau persetujuan terhadap calon Ketua Umum PBNU.
Menurut Nuh, perbedaan kedua mekanisme tersebut bukan pada tujuan pemilihannya, melainkan cara menentukan figur Ketua Umum PBNU. Satu mekanisme mengandalkan suara peserta muktamar, sementara mekanisme lainnya mengutamakan permusyawaratan.
“Kalau tadi yang memilih vote, one man one vote, voting. Tapi ini musyawarah,” ujarnya.
Karena itu, keputusan mengenai mekanisme pemilihan menjadi salah satu agenda penting yang harus diselesaikan dalam Komisi Organisasi.
Nuh mengatakan pembahasan pemilihan baru akan berlangsung dalam agenda komisi dan belum menghasilkan keputusan. Pembahasan dijadwalkan berlangsung hingga Minggu sebelum hasil akhirnya diketahui.
“Baru nanti malam mulai komisi. Nah, di komisi itu sudah dibahas, dilanjutkan sampai besok juga,” jelasnya.
Setelah proses tersebut selesai, forum baru dapat mengetahui mekanisme yang disepakati untuk pemilihan Ketua Umum PBNU.
Di tengah pembahasan itu, proses pengusulan nama Ahwa juga telah berlangsung di tingkat bawah. PCNU, PWNU dan PCINU disebut telah melakukan musyawarah untuk menentukan nama-nama yang akan diajukan sebagai calon anggota Ahwa.
Usulan tersebut kemudian dibawa peserta ketika melakukan registrasi di arena Muktamar NU ke-35. Namun, panitia belum membuka daftar nama tersebut kepada publik.
Untuk menjaga keamanan dokumen, seluruh berkas usulan Ahwa ditempatkan dalam ruangan kaca yang dilengkapi CCTV.
Menurut Nuh, sistem tersebut memungkinkan proses penyimpanan dokumen dapat dipantau sekaligus menjaga transparansi.
“Sehingga dipastikan aman,” katanya. Ia menambahkan dokumen tersebut baru akan dibuka ketika prosesnya telah memasuki tahapan yang ditentukan.
Jika mekanisme Ahwa akhirnya disepakati, lembaga tersebut memiliki posisi strategis dalam rangkaian penentuan kepemimpinan NU.
Ahwa akan memilih Rais Aam PBNU, kemudian Rais Aam terpilih memberikan restu terhadap calon Ketua Umum PBNU.
“Karena Ahwa ini yang memilih Rais Aam. Dari Ahwa itu akan memilih Rais Aam,” kata Nuh.
Setelah Rais Aam terpilih, proses penentuan Ketua Umum PBNU dilanjutkan sesuai mekanisme yang nantinya disepakati Muktamar NU ke-35.
Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas menjadi forum penting bagi Nahdlatul Ulama dalam menentukan kepemimpinan organisasi untuk periode berikutnya.
Selain memilih kepemimpinan, pembahasan mekanisme pemilihan juga menjadi bagian dari dinamika organisasi dalam muktamar kali ini.