Jombang, MEMANGGIL.CO - Dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) terjadi di SMPN 1 Kabuh, Kabupaten Jombang, setelah puluhan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG pada Rabu (2/9/2026).
Data sementara mencatat sebanyak 80 warga sekolah terdampak, terdiri dari 76 siswa dan empat guru yang mengalami keluhan kesehatan dengan gejala berbeda-beda.
Sebagian besar siswa telah mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan, sementara tujuh siswa masih menjalani rawat inap di Puskesmas Kabuh karena kondisinya dinilai lebih lemas.
Dokter Puskesmas Kabuh, dr Aditya Bimantara, menyampaikan hingga Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 11.30 WIB, sebanyak 70 siswa telah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Kabuh.
"Dikeluhkan didominasi diare, perut mulas dan melilit, serta nyeri lambung. Berdasarkan pemeriksaan sementara, kemungkinan mengarah pada keracunan," ujar Aditya, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, keluhan mulai dirasakan siswa sejak Rabu malam atau beberapa jam setelah mereka menyantap makanan MBG yang dibagikan di sekolah.
Mayoritas siswa mengalami diare, sedangkan sebagian lainnya mengalami muntah yang kemudian menyebabkan tubuh menjadi lemas akibat kehilangan cairan.
Dalam pemeriksaan awal, petugas juga menggali keterangan dari sejumlah siswa mengenai makanan yang memiliki rasa maupun aroma berbeda dari biasanya.
"Beberapa siswa sempat saya tanyai mengenai makanan yang rasanya tidak enak atau aromanya kurang sedap. Sebagian besar menyebut udang," katanya.
Meski demikian, Aditya menegaskan temuan tersebut belum cukup untuk memastikan udang sebagai penyebab munculnya keluhan kesehatan para siswa.
"Untuk sementara, kemungkinan mengarah pada udang," lanjutnya.
Puskesmas juga menemukan beberapa siswa mengalami peningkatan denyut nadi yang diduga berkaitan dengan kondisi kekurangan cairan setelah muntah dan diare.
Namun, hingga Kamis siang belum ada siswa yang harus dirujuk ke rumah sakit karena kondisi masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
"Beberapa siswa sudah kami pulangkan setelah mendapatkan obat dan penanganan awal," terang Aditya.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Kabuh Suprihadiono mengatakan gejala pada siswa sebenarnya mulai terlihat sejak Rabu sore setelah mereka pulang dari sekolah.
Sejumlah siswa dari rumah mulai mengeluhkan sakit perut, mulas, hingga lebih sering buang air besar.
"Setelah itu, dari rumah ada yang terindikasi sakit perut, mules, terus ke belakang, sering ke belakang. Indikasinya sudah mulai sore di rumah," ujarnya.
Jumlah siswa yang mengalami keluhan kemudian bertambah pada Kamis pagi ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Pihak sekolah melihat semakin banyak siswa meminta izin ke toilet hingga akhirnya sebagian dibawa ke ruang UKS untuk mendapatkan penanganan awal.
"Yang izin ke belakang semakin lama kok semakin banyak, lalu dibawa ke UKS," katanya.
Sekolah kemudian berkoordinasi dengan SPPG Mangunan selaku penyedia MBG serta fasilitas kesehatan untuk memastikan siswa yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan.
Sebanyak 61 siswa dibawa ke Puskesmas Kabuh, tujuh siswa mendapatkan penanganan di Klinik Pratama Ploso, sedangkan delapan siswa diperiksa di Klinik Asy-Syifa.
"Yang di Puskesmas itu sekitar 61 anak. Di Klinik Pratama tujuh orang, di Asy-Syifa delapan orang. Sudah ditangani, diberi obat, sudah kembali lagi ke sekolah," jelas Suprihadiono.
Dari jumlah tersebut, tujuh siswa masih menjalani rawat inap di Puskesmas Kabuh karena kondisi tubuh mereka lebih lemas dan membutuhkan pemantauan medis.
Dugaan gangguan kesehatan ternyata tidak hanya dialami siswa, sebab empat guru SMPN 1 Kabuh juga mengeluhkan sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG.
Keempat guru tersebut tidak menjalani perawatan di fasilitas kesehatan karena telah mengonsumsi obat di rumah.
"Ada guru yang sakit perut ada empat orang. Tidak sampai (dirawat), karena sudah minum obat di rumah," ungkap Suprihadiono.
Menu MBG yang dibagikan pada Rabu terdiri atas udang, tumis wortel dan kubis, serta tahu.
Sekolah menyebut terdapat makanan yang dinilai mencurigakan, meskipun tidak seluruh siswa maupun guru mengonsumsi semua menu yang dibagikan.
"Ada sebagian yang mencurigakan, cuma ada yang anak-anak tidak dimakan. Bapak/Ibu guru juga ada yang makan tidak apa-apa. Seperti saya itu kemarin juga makan, tapi tidak apa-apa," tuturnya.
Setiap hari SMPN 1 Kabuh menerima 683 porsi MBG dari SPPG Mangunan, dengan rincian 639 porsi untuk siswa serta 47 porsi untuk guru dan karyawan.
Hingga kini, penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan tersebut masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut sehingga dugaan keterkaitan dengan makanan tertentu belum dapat dipastikan.