Rembang, MEMANGGIL.CO - Sebuah warung kosong di Desa Kalipang, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, mendadak menjadi perhatian warga setelah seorang pria ditemukan meninggal di dalamnya.
Pria tersebut ternyata Guntur bin Zaenal (60), pelaut asal Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, yang baru beberapa hari datang ke Rembang untuk menunggu anaknya yang sedang mondok.
“Korban ditemukan sudah meninggal dunia dalam posisi terlentang,” kata Kapolsek Sarang AKP Yuli Sri Mulyani kepada wartawan.
Guntur ditemukan Senin (14/9/2026) sekitar pukul 18.30 WIB setelah warga menyadari dirinya sudah dua hari tidak terlihat.
Kisah Guntur di Kalipang bermula tiga hari sebelumnya. Pada Jumat (11/9/2026), ia meminta izin kepada Sumirah (67), pemilik warung, untuk tinggal sementara di bangunan tersebut.
Guntur mengaku berasal dari Batam dan mengatakan sedang menunggu anaknya yang mondok di sebuah pondok pesantren putri di Desa Kalipang.
Ia berencana tinggal di tempat itu hingga Desember sambil menunggu anaknya menyelesaikan aktivitas di pesantren.
Sumirah mengizinkan Guntur menempati warung tersebut. Ia bahkan memberikan kasur busa, bantal dan tikar agar tamunya dapat beristirahat dengan nyaman.
Selama tinggal di sana, Guntur sempat membersihkan bangunan yang ditempatinya. Tidak ada yang menyangka aktivitas sederhana itu menjadi salah satu momen terakhir korban terlihat dalam keadaan hidup.
Menjelang Magrib pada Jumat, Guntur meninggalkan warung dan pergi ke Masjid Wali Blitung untuk melaksanakan salat. Setelah itu, tidak ada keterangan dari saksi mengenai kapan korban kembali ke warung.
Hari Sabtu dan Minggu berlalu tanpa terlihatnya Guntur. Kondisi tersebut akhirnya menimbulkan kekhawatiran karena pria yang baru beberapa hari tinggal di lokasi itu tidak lagi tampak beraktivitas.
“Karena korban sudah dua hari tidak terlihat, saksi merasa khawatir,” ujar Yuli.
Sumirah kemudian meminta bantuan Suharyono, warga yang menjaga konter telepon seluler yang lokasinya hanya sekitar delapan meter dari warung.
Setelah Magrib pada Senin, Sumirah bersama Suharyono mendatangi warung tersebut. Pintu dibuka dan keduanya mendapati Guntur sudah terbaring di dalam dalam kondisi meninggal dunia.
Tubuh korban ditemukan dalam posisi terlentang. Kondisinya telah membengkak dan menunjukkan tanda-tanda pembusukan.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada polisi sekitar pukul 19.15 WIB. Anggota Polsek Sarang bersama tim medis Puskesmas Sarang datang untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap korban.
“Untuk tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban tidak ditemukan,” kata Yuli.
Pemeriksaan luar tidak menemukan luka maupun tanda yang mengarah pada dugaan kekerasan fisik.
Petugas memperkirakan korban telah meninggal sekitar dua kali 24 jam sebelum ditemukan. Tanda pembusukan terlihat pada beberapa bagian tubuh, termasuk bagian kepala dan mata kiri.
Namun, polisi menghadapi kendala saat hendak memastikan identitas korban. Guntur tidak ditemukan membawa kartu identitas ketika jasadnya diperiksa di lokasi.
Beberapa barang yang ditemukan di sekitar korban kemudian didata petugas. Barang tersebut antara lain sarung hitam, celana dalam hijau merek Kasogi dan telepon seluler Poco berwarna hitam.
Identifikasi kemudian dilakukan oleh Tim Inafis Polres Rembang melalui pemeriksaan sidik jari. Hasilnya memastikan jasad tersebut merupakan Guntur bin Zaenal.
“Hasil pengecekan sidik jari oleh Inafis, korban diketahui bernama Guntur sesuai identitas yang ada,” jelas Yuli.
Guntur tercatat sebagai warga Jalan Gang H.M. Nawawie, Kelurahan Tanjung Batu Kota, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
Dari pemeriksaan awal, polisi menduga Guntur meninggal karena serangan jantung. Dugaan tersebut disampaikan setelah pemeriksaan luar tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Jenazah kemudian dievakuasi dari warung dan dibawa ke RSUD dr. R. Soetrasno Rembang. Proses tersebut dilakukan setelah polisi dan tenaga medis menyelesaikan pemeriksaan awal di lokasi.
Bagi warga Kalipang, kedatangan Guntur awalnya tidak lebih dari seorang pendatang yang membutuhkan tempat tinggal sementara.
Ia datang untuk menunggu anaknya yang sedang mondok, tetapi justru ditemukan meninggal seorang diri di tempat yang baru beberapa hari menjadi tempatnya beristirahat.
Warung kosong itu kini menyimpan cerita berbeda tentang seorang pelaut yang datang dari jauh. Guntur meninggalkan Karimun menuju Rembang dengan tujuan menemani dari dekat sang anak, namun perjalanan tersebut berakhir sebelum ia sempat kembali bertemu dengannya.