Blora, MEMANGGIL.CO - Pemerintah Kabupaten Blora melakukan kunjungan kerja ke Institut Teknologi Bandung (ITB), Senin sore (5/1/2026). Kunjungan ini menjadi momen penting dalam penguatan kerja sama strategis, khususnya terkait program Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) serta pembahasan pengusulan Barongan Blora sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Rombongan Pemerintah Kabupaten Blora dipimpin langsung Bupati Blora, H. Arief Rohman, didampingi Wakil Bupati Sri Setyorini, Sekda, dan sejumlah kepala perangkat daerah terkait. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Prof. Sanggono Adisasmito, Kepala Pusat Pemanfaatan Karbon Dioksida dan Gas Suar ITB, beserta jajaran.

Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Gus Arief menyampaikan apresiasi atas dukungan ITB terhadap upaya pembangunan Blora yang berorientasi pada kemajuan, keberlanjutan, dan berbasis riset.

“Pembangunan Kabupaten Blora kami arahkan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan yang maju dan berkelanjutan, namun tetap berakar pada potensi lokal,” ungkapnya.

Menurutnya, pengembangan teknologi CCUS merupakan bagian dari transformasi menuju ekonomi hijau dan rendah karbon.

“Bagi Blora, CCUS bukan hanya agenda global, tetapi peluang strategis untuk mengelola potensi daerah secara bertanggung jawab sekaligus bernilai tambah jangka panjang,” jelasnya.

Dengan potensi sektor energi dan pertanian yang kuat, Blora memandang CCUS sebagai ruang kolaborasi antara teknologi, kebijakan, dan kepentingan masyarakat. Ke depan, kerja sama ini diharapkan tak berhenti pada tataran konsep, namun berkembang menjadi riset terapan dan model kebijakan daerah.

Gus Arief juga menegaskan sejalan dengan itu, Blora tengah mendorong rencana Blora Biochar dan Carbon Farming Hub, yang tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi karbon, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi petani dan pelaku usaha lokal.

Barongan: Identitas Lokal yang Siap Mendunia

Di sisi lain, pembangunan berkelanjutan bagi Blora juga dimaknai sebagai upaya menjaga jati diri dan warisan budaya. Salah satunya adalah kesenian Barongan Blora yang memiliki nilai sejarah, sosial, spiritual, serta kearifan lokal.

Sate Pak Rizki

“Bagi kami, Barongan bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah identitas, simbol solidaritas sosial, relasi manusia dengan alam, dan nilai keberlanjutan yang hidup dalam masyarakat Blora,” tegas Gus Arief.

Karenanya, Pemerintah Kabupaten Blora serius mendorong Barongan masuk sebagai Warisan Budaya Takbenda, bahkan menuju pengakuan dunia.

Sejumlah pihak pun menyatakan dukungan. Budayawan Muksin menilai Barongan layak diajukan hingga level UNESCO.

Sementara Panca Waluyo dari Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikdasmen menyatakan kesiapan mendampingi Blora.

“Saya pernah terlibat dalam penguatan Reog Ponorogo hingga diakui internasional. Dan saya siap membantu Blora agar Barongan dikenal dan diakui dunia,” katanya penuh semangat.

Melalui koordinasi ini, Pemerintah Blora berharap lahir kerja sama yang jelas, terukur, dan berkelanjutan baik dalam pengembangan teknologi karbon maupun penguatan identitas budaya.

Kunjungan diakhiri dengan peninjauan sejumlah laboratorium dan fasilitas riset ITB sebagai bagian dari eksplorasi kolaborasi ke depan.