Surabaya, MEMANGGIL.CO – Ketegangan yang sempat mencuat antara Pemerintah Kota Surabaya dan Organisasi Kemasyarakatan Madura Asli (Madas) Sedarah akhirnya mencapai titik damai.

Polemik yang sempat menyita perhatian publik itu diselesaikan melalui forum mediasi di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Selasa (6/1/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan Ketua Umum Madas Sedarah Moch. Taufik sepakat membuka ruang dialog, meluruskan kesalahpahaman, serta saling memaafkan demi menjaga stabilitas dan harmoni Kota Pahlawan.

Rektor Unitomo Prof. Siti Marwiyah, selaku penggagas pertemuan, menyampaikan keprihatinannya atas kegaduhan yang sempat viral di media sosial sejak pertengahan Desember lalu.

Menurutnya, Surabaya sebagai kota besar yang majemuk harus dijaga dari potensi konflik sosial.

“Sebagai institusi akademik, kami memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga Surabaya tetap kondusif. Jangan sampai perbedaan justru memecah kita. Stabilitas Surabaya berpengaruh besar bagi Jawa Timur bahkan nasional,” tegasnya.

Madas Tegaskan Tak Terlibat, Pilih Jalan Hukum dan Dialog

Ketua Umum Madas Sedarah Moch. Taufik, S.H., M.H. menegaskan organisasinya tidak terkait dengan insiden dugaan penggusuran yang sempat menyeret nama Madas.

Ia menyebut hasil klarifikasi aparat penegak hukum telah menegaskan tidak ada keterkaitan struktural antara peristiwa tersebut dengan organisasi yang dipimpinnya.

“Polda Jawa Timur sudah jelas. Oknum berinisial Y yang disebut-sebut itu bukan bagian dari Madas. Kami menyayangkan stigma negatif yang muncul, namun kami tegaskan Madas bukan wadah premanisme,” ujarnya.

Taufik juga mengungkapkan keprihatinannya atas dampak lanjutan isu, seperti perusakan kantor Madas hingga aksi doxing terhadap keluarganya.

Sate Pak Rizki

Meski demikian, ia memilih menempuh jalur hukum dan dialog sebagai wujud kedewasaan sikap.
Armuji Klarifikasi, Akui Kekhilafan

Pada kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menjelaskan kembali soal video sidak yang sempat viral ketika dirinya mendatangi rumah warga bernama Elina. Ia mengakui adanya kekeliruan penyebutan nama ormas saat situasi lapangan memanas.

“Dalam situasi yang emosional, muncul penyebutan nama Madas karena atribut yang dikenakan salah satu oknum di lokasi. Saya menyadari itu kekhilafan, dan secara pribadi maupun sebagai pejabat publik saya menyampaikan permohonan maaf,” ujarnya.

Armuji menegaskan langkahnya kala itu murni untuk melindungi warga dan tidak bermaksud menyudutkan etnis maupun organisasi tertentu.

Surabaya Pilih Rukun

Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama memperkuat persaudaraan serta merawat kebersamaan di Surabaya.

Armuji mengapresiasi sikap terbuka dan kedewasaan Madas Sedarah dalam menyelesaikan persoalan melalui jalur kekeluargaan.

“Ini pelajaran penting bagi kita semua. Mari jadikan momentum ini untuk saling introspeksi dan menjaga ketentraman Surabaya,” pungkasnya.

Dengan kesepahaman ini, kedua pihak sepakat mengajak masyarakat, termasuk warganet untuk tidak lagi memanaskan isu, demi menjaga persatuan, kedamaian, dan wajah Surabaya sebagai kota toleran dan inklusif.