Semarang, MEMANGGIL.CO - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) kian serius menggarap potensi wisata ramah muslim (muslim-friendly tourism). Langkah ini diambil untuk menjawab tingginya permintaan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang mendambakan kenyamanan fasilitas saat berlibur.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengungkapkan bahwa salah satu wilayah yang kini jadi percontohan adalah Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar.
"Ada beberapa kawasan yang kita kembangkan sebagai spot wisata ramah muslim, seperti Tawangmangu yang saat ini sudah bagus," ujar pria yang akrab disapa Gus Yasin usai menerima audiensi Gerakan Entrepreneur Ekonomi Muslimah Indonesia (GEEMI) di Semarang, Selasa (6/1/2026).
Kenapa Tawangmangu?
Gus Yasin menjelaskan, Tawangmangu dipilih sebagai role model karena kesiapan infrastrukturnya yang sudah matang. Mulai dari sentra oleh-oleh, kafe, hingga kulinernya telah tertata dengan konsep ramah muslim.
Tak hanya soal objek wisata, Pemprov Jateng juga mendorong sektor perhotelan untuk ikut berbenah. Menurut Gus Yasin, hotel-hotel di Jateng diharapkan menyediakan fasilitas pendukung seperti:
Menu kuliner bersertifikat halal.
Tempat ibadah yang representatif.
Penunjuk arah kiblat di setiap kamar.
"Wisatawan mancanegara, khususnya dari Timur Tengah, atau mereka yang dari basis pendidikan pesantren pasti akan memilih spot ramah muslim sebagai destinasi utama," jelasnya.
Garap Ekosistem Halal dari Hulu
Komitmen ini bukan sekadar urusan lokasi wisata. Pemprov Jateng juga mulai membenahi ekosistem dari sisi hulu. Fokus utamanya adalah penguatan sertifikasi halal di berbagai sektor, di antaranya:
Pengawasan ketat sertifikasi halal di Rumah Potong Ayam (RPA) dan Rumah Potong Hewan (RPH).
Pengembangan profesi Tukang Jagal Halal yang populer disebut "Kang Jalal".
Penguatan regulasi ekonomi syariah di tingkat daerah.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari 11 program prioritas duet Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah di Jawa Tengah.
Dengan pengembangan ini, Jateng optimis bisa menjadi magnet baru bagi wisatawan muslim dunia dan menggerakkan roda ekonomi lokal melalui sektor pariwisata yang lebih inklusif.