Sumatera Barat, Memanggil.co - "Aku bukan penjahat, aku hanya seorang nenek yang tidak ingin hidupnya dirampas pelan-pelan." Kalimat lirih itu keluar dari bibir Saudah, seorang wanita lansia yang kini harus menahan perih, baik di raga maupun di hatinya.
Saudah menjadi korban kekerasan setelah mencoba mempertahankan tanah ulayat miliknya dari serbuan alat berat. Kisahnya menjadi potret buram perjuangan rakyat kecil yang berhadapan dengan tembok kekuasaan dan keserakahan.
Bermula dari Kedatangan Alat Berat
Kejadian bermula ketika sekelompok orang datang membawa alat berat ke wilayah tempat tinggal Saudah. Mereka berdalih mencari emas dan menjanjikan hanya akan beroperasi dalam waktu singkat. Namun, sebagai pemilik sah yang telah membesarkan anak-cucunya di sana, Saudah tahu ada yang tidak beres.
"Aku mendatangi mereka. Tidak marah, tidak teriak. Aku hanya bilang: Tolong berhenti, ini tanah saya," kenang Saudah.
Teror Tengah Malam
Meski sempat berhenti sejenak, ketenangan itu hanya fatamorgana. Pada malam harinya, suara menderu dari mesin-mesin berat kembali memecah kesunyian. Kali ini suaranya lebih keras dan lokasinya lebih dekat ke arah hunian Saudah.
Dengan langkah kaki yang tak lagi kuat, Saudah kembali menghampiri para pekerja tersebut. Niatnya sederhana: ia hanya ingin tanahnya tidak dirusak.
Dipukul dan Dilempari Batu
Nahas, dialog yang diharapkan Saudah justru berbalas kekerasan. Tanpa belas kasihan, oknum di lokasi tersebut melakukan penganiayaan terhadap wanita tua ini.
Kronologi: Saudah dipukul dan dilempari batu hingga tersungkur.
Kondisi Korban: Ia ditinggalkan sendirian dalam kondisi tak berdaya di tengah kegelapan malam.
Dampak Psikologis: Selain luka fisik, Saudah mengaku mengalami trauma mendalam akibat rasa takut yang luar biasa.
"Aku ingat rasa sakitnya. Tapi yang lebih sakit adalah rasa takut. Aku sendirian, tidak ada siapa-siapa. Aku ditinggalkan di sana, di tanah yang seharusnya melindungiku," ungkapnya dengan suara bergetar.
Harga Mahal Sebuah Perlawanan
Kasus Saudah menjadi pengingat pahit bagi kita semua. Baginya, menjaga tanah kelahiran ternyata harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Di usia senjanya, ia harus belajar kenyataan pahit bahwa suara "orang kecil" seringkali dianggap gangguan oleh mereka yang punya kuasa dan modal.
Hingga saat ini, kasus dugaan penganiayaan dan penyerobotan lahan ini diharapkan mendapat perhatian serius dari pihak berwenang agar keadilan bagi Nenek Saudah dapat ditegakkan.