Tuban, MEMANGGIL.CO - “Tolong… tolong… tolong!”
Teriakan itu memecah rangkaian perayaan Imlek 2026 di halaman kelenteng terbesar se-Asia Tenggara yang berdiri megah di pesisir Kabupaten Tuban, Minggu, (22/2/2026).
Di antara gemerlap lampion merah yang bergoyang pelan diterpa angin laut, dan aroma hio yang mengepul khusyuk, suara itu terdengar nyaring, bukan doa, bukan bagian dari atraksi barongsai.
Suara itu milik Ratnasari, pegawai utusan dari pihak Soedomo Margonoto, yang siang itu berdiri di tengah pusaran ketegangan.
Momen rangkaian Imlek yang seharusnya dipenuhi sukacita berubah menjadi adegan dorong-mendorong dan penyegelan sejumlah ruangan.
Nada suara meninggi. Beberapa umat saling menahan emosi, sebagian lain tak kuasa membendung amarah.
Ironisnya, aksi dorong itu bukan dilakukan para petinggi yang namanya kerap disebut dalam pusaran polemik. Yang berhadapan justru umat-umat di lapisan bawah, mereka yang datang dengan harapan sederhana. Yakni melihat kelenteng damai seperti dulu.
Kelenteng tua yang selama ini menjadi simbol persatuan umat Tionghoa di Tuban kembali menjadi panggung konflik panjang yang tak kunjung menemukan ujung.
Ketika Imlek Tak Lagi Sekadar Perayaan
Polemik kepengurusan di TITD Kwan Sing Bio bukan cerita baru. Lebih dari 14 tahun, persoalan itu menggantung tanpa titik temu.
Namun di awal Tahun Baru Imlek 2577, bara lama yang sempat meredup kembali menyala.
Kubu yang dipimpin Go Tjong Ping, Ketua Umum terpilih TITD Kwan Sing Bio Tuban, meminta pengelola asal Surabaya angkat kaki. Mereka berpegang pada kesepakatan awal yakni masa swakelola disebut telah berakhir pada Desember 2024.
“Kalau memang sudah selesai, kembalikan kepada umat Tuban,” begitu semangat yang mereka gaungkan.
Di sisi lain, dua pegawai utusan dari pihak Soedomo, Ratnasari dan Soejanto, masih berkegiatan seperti biasa di sejumlah ruangan kelenteng.
Hingga akhirnya, ruangan-ruangan itu disegel oleh sejumlah umat yang merasa hak pengelolaan belum dikembalikan. Aparat kepolisian berjaga dengan wajah tegang.
Kuncinya di Pak Soedomo
Nama Soedomo Margonoto mencuat sebagai sosok sentral dalam polemik ini. Ia dikenal sebagai pemilik Kapal Api dan salah satu tokoh yang dahulu ditunjuk untuk membantu menyelesaikan kisruh internal kelenteng.
Selain dirinya, dua tokoh Surabaya lain yang pernah dipercaya umat adalah Alim Markus dan Paulus Willy Afandy. Penunjukan itu disertai batas waktu pengelolaan hingga akhir Desember 2024.
Namun setelah tenggat disebut berlalu, kubu Go Tjong Ping menilai kelenteng belum sepenuhnya kembali ke tangan umat Tuban.
“Kuncinya terletak pada Pak Soedomo. Kalau dia ikhlas mengembalikan kelenteng ke umat Tuban, maka tidak ada polemik seperti ini,” tegas Go Tjong Ping.
Kata Go Tjong Ping bahwa persoalan ini bahkan disebut telah diadukan kepada Presiden Prabowo Subianto, Kapolri, Kejaksaan Agung, hingga pengusaha nasional Tommy Winata. Nama Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam juga disebut telah dimintai bantuan.
Dari halaman kelenteng di Tuban, gema konflik ini menjalar hingga ke pusat kekuasaan negeri.
Sumpah Bertahan di Rumah Ibadah
Ketegangan tak berhenti pada penyegelan. Go Tjong Ping dan sejumlah umat menyatakan siap bertahan di dalam kelenteng hingga pengelola asal Surabaya benar-benar meninggalkan Tuban.
“Saya bersama umat akan tidur di kelenteng sampai kelenteng ini dikembalikan ke umat Tuban,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar ancaman. Bagi mereka, kelenteng bukan hanya bangunan megah dengan patung dewa dan naga raksasa. Ia adalah ruang sejarah, tempat doa-doa dipanjatkan, dan identitas yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah situasi yang memanas, Soedomo Margonoto ketika dikonfirmasi mengaku bahwa dua kubu masih bersitegang sehingga pengelolaan kelenteng belum bisa diserahkan kepada umat Tuban.
Soedomo mengaku telah berupaya mendamaikan kedua belah pihak. Ia juga terbuka untuk berdialog demi menyelesaikan konflik.
Di Antara Kuasa dan Doa
Polemik ini menyisakan pertanyaan mendasar?. Siapa yang paling berhak atas rumah ibadah yang dibangun dari semangat kebersamaan?.
Di satu sisi, ada nama besar, jejaring luas, dan pengaruh ekonomi. Di sisi lain, ada umat yang merasa memiliki secara historis dan emosional.
Lampion-lampion merah masih bergantung anggun. Lilin-lilin tetap menyala di altar. Namun di balik cahaya yang temaram, bara konflik belum benar-benar padam.
Dan di antara riuh perayaan Imlek, suara “tolong” itu menjelma simbol, bahwa bahkan di rumah doa, manusia tetap membawa ego, kepentingan, dan luka yang belum selesai.
Kelenteng itu masih berdiri kokoh di tepi laut Tuban, menantang ombak dan waktu.
Namun kini, pertanyaannya bukan lagi tentang kemegahan arsitekturnya.
Melainkan tentang siapa yang akan lebih dulu menurunkan gengsi, demi damai yang selama ini hanya menjadi wacana.