Jakarta, MEMANGGIL.CO - Dunia maya kembali diramaikan oleh pernyataan kontroversial seorang konten kreator. Kali ini, TikToker bernama Cut Rizki menjadi sorotan setelah mengunggah konten yang menyebut bahwa sahur mengganggu jam tidurnya. Pernyataan itu langsung memantik gelombang kecaman dari netizen di berbagai platform, Jum'at (27/2/2026).

Dalam kontennya, Cut Rizki dengan santai mengungkapkan pendapatnya soal sahur.

"Jadi sahur menurut kita agak sedikit mengganggu jam tidur kita. Kita pengen tidur lebih lama. Sahur itu ga buat semua orang," ujarnya.

Ia bahkan mengaku lebih memilih makan banyak di malam hari lalu langsung tidur, daripada harus repot bangun dini hari untuk sahur. Suaminya pun langsung mengamini pernyataan tersebut dengan komentar yang tak kalah mengundang reaksi:

"Daripada perkara sahur bablas baru bangun sampe maghrib."

Tak berhenti di situ, Cut Rizki juga mengeluh soal kebingungannya memilih menu sahur, hingga mengaku pernah bablas ketiduran dan akhirnya tidak sahur yang membuatnya lemas seharian. Ia pun mengakui dirinya adalah tipe orang yang membutuhkan waktu tidur sangat panjang.

Konten tersebut sontak menuai gelombang hujatan dari netizen, khususnya dari kalangan muslim. Banyak yang merasa pernyataan Cut Rizki tidak hanya ceroboh, tapi juga menyinggung ibadah yang dimuliakan dalam Islam.

Sahur bukan sekadar kebiasaan bangun pagi. Dalam ajaran Islam, sahur adalah sunnah yang sangat dianjurkan bahkan disebut memiliki keberkahan tersendiri. Rasulullah SAW pun menganjurkan umatnya untuk tidak meninggalkan sahur meski hanya dengan seteguk air.

Ketika Lupa Siapa Pemberi Nikmat Tidur

Yang membuat pernyataan ini semakin terasa berat adalah ironi di baliknya — Cut Rizki mengeluhkan sahur yang "mengganggu tidur", padahal tidur itu sendiri adalah nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Bayangkan: kita bisa memejamkan mata dengan nyenyak, bangun dalam kondisi segar, bahkan punya waktu tidur yang panjang semua itu bukan sesuatu yang bisa kita ciptakan sendiri. Itu semua adalah karunia dari Allah.

Sate Pak Rizki

Maka ketika seseorang merasa "terganggu" karena harus bangun sebentar untuk sahur sebuah ibadah yang justru menjadi tanda syukur atas nikmat hidup dan sehat ada baiknya kita merenung: apakah kita sudah terlalu perhitungan dengan Yang Maha Memberi?

Allah memberikan nikmat tidur, nikmat kesehatan, nikmat waktu, bahkan nikmat bisa menikmati makanan sahur dan sebagai balasannya, kita diminta bangun sebentar untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasanya, itu bukan sesuatu yang terlalu berat untuk dilakukan.

Sebenarnya, ada sisi yang bisa dimaklumi dari pernyataan Cut Rizki. Tidak semua orang di Indonesia berpuasa ada non-muslim, ibu hamil, menyusui, yang sedang haid, atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Secara logis, "sahur tidak untuk semua orang" memang bukan pernyataan yang sepenuhnya salah.

Namun konteksnya menjadi sangat berbeda ketika ia menambahkan bahwa sahur "mengganggu" karena frasa itu terdengar meremehkan ibadah yang disakralkan oleh jutaan muslim.

Di sinilah letak persoalannya. Sebagai konten kreator dengan audiens besar, setiap kata yang diucapkan di depan kamera bukan lagi sekadar opini pribadi ia menjadi konsumsi publik. Dan publik, tentu saja, punya hak untuk merespons.

Kasus ini menjadi pengingat penting, tidak hanya bagi Cut Rizki, tetapi bagi seluruh konten kreator di Indonesia:

Bebas punya pendapat itu hak semua orang. Tapi ada kalanya lebih bijak jika hal-hal yang bersifat sensitif — terutama menyangkut ibadah dan keyakinan — cukup dijalankan secara pribadi tanpa perlu diumbar ke publik.

Berpikir sebelum berbicara bukan sekadar soal sopan santun. Ini soal tanggung jawab sosial, apalagi bagi mereka yang memiliki pengaruh besar di media sosial.

Karena pada akhirnya, menjadi konten kreator yang sukses bukan hanya soal viral tapi soal bagaimana kita bisa tetap menginspirasi tanpa menyakiti orang lain.