Karanganyar, MEMANGGIL.CO – Alam memanggil, manusia menjawab. Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, resmi mencanangkan gerakan besar "Jogo Kali Merawat Bumi" sebagai wujud nyata cinta pada lingkungan. Aksi perdana ini digelar dengan menanam ratusan bibit pohon penyerap air di sepanjang aliran sungai, belum lama ini.
Semangat kebersamaan terlihat jelas saat ratusan orang yang terdiri dari kelompok tani dan Relawan Jogo Kali bahu-membahu menanam 100 bibit pohon Preh, Bulu, dan Beringin di kawasan Sungai Ndelok, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu.
Bagi Sumanto, gerakan ini bukan sekadar menanam, melainkan investasi kehidupan. Ia menyoroti fakta bahwa banyak sumber air kecil atau "belik" yang dulu melimpah, kini mulai menghilang. Melalui penanaman pohon yang memiliki akar kuat dan kemampuan menyimpan air tinggi, ia berharap kehidupan sungai dan sawah bisa kembali pulih.
"Gerakan ini untuk merawat bumi. Dulu banyak belik dan mata air, sekarang sudah tidak ada. Makanya kita tanam pohon yang bisa menampung air, supaya saat kemarau debit air tidak kering," ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.
Ia menekankan, kondisi bantaran sungai yang gundul menjadi penyebab utama kekeringan dan erosi. Oleh karena itu, kehadiran pohon-pohon ini diharapkan menjadi "spons alam" yang menyimpan cadangan air.
"Harapannya dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, sumber-sumber air baru akan muncul kembali. Ini adalah warisan terbaik untuk anak cucu kita nanti," tegasnya.
Program rutin setiap Sabtu ini didukung penuh oleh pembentukan relawan di setiap desa. Tugas mereka bukan hanya menanam, tapi juga memastikan setiap pohon tumbuh subur, hidup, dan terawat, serta siap mengganti jika ada yang mati.
Harapan Warga dan Petani
Kepala Desa Suruh, Gunowo, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, kembali menghijaukan kawasan sungai adalah kunci utama mencegah bencana seperti banjir dan longsor, sekaligus mengembalikan keseimbangan alam.
"Dulu di sini banyak pohon besar yang menyimpan air, sekarang sudah hilang. Dengan penanaman ini, kami berharap lingkungan kembali asri dan aman," katanya.
Sementara itu, Sumarno, Ketua Kelompok Petani Maju, mengaku sangat terbantu dengan program ini. Selama ini, petani kesulitan mendapatkan air saat kemarau dan terpaksa mengeluarkan biaya besar untuk menyewa sumur bor.
"Saat kemarau petani selalu 'menjerit'. Biaya sewa sumur bisa mencapai Rp100 ribu sekali siram, dan dalam satu musim butuh puluhan kali penyiraman. Kalau air tersedia gratis dari alam, tentu beban petani akan sangat berkurang," ungkapnya.
Ia berharap "Jogo Kali Merawat Bumi" terus berjalan, sehingga sawah tetap hijau sepanjang tahun dan kesejahteraan petani meningkat. (ADV)