Sidoarjo, MEMANGGIL.CO – Upaya memperkuat deteksi dini HIV/AIDS di kalangan kelompok rentan terus dilakukan di Kabupaten Sidoarjo. Salah satunya melalui kegiatan Mobile Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang menyasar pasien rehabilitasi narkoba di YPP Al Kholiqi, Kecamatan Waru.
Program yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo melalui Puskesmas Waru bekerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur tersebut menghadirkan layanan pemeriksaan HIV, konseling kesehatan, serta edukasi pencegahan penyakit secara langsung di lingkungan rehabilitasi.
Direktur YPP Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba, Sayyid Abdullah, S.H.I., mengapresiasi pelaksanaan layanan kesehatan yang dinilai mampu menjangkau pasien secara lebih efektif.
"Pendekatan jemput bola seperti ini sangat membantu. Pasien tidak perlu keluar dari lingkungan rehabilitasi untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Selain lebih mudah, mereka juga memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya menjaga kondisi tubuh dan melakukan deteksi dini penyakit," ujarnya kepada Memanggil.co, Sabtu (30/5/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Project Global Fund (GF) New Funding Model yang dijalankan PKBI Jawa Timur dalam mendukung upaya penanggulangan HIV/AIDS di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sidoarjo.
Perwakilan PKBI Jawa Timur, Siswanto, menjelaskan bahwa pengguna narkoba suntik masih menjadi salah satu kelompok yang memiliki kerentanan terhadap penularan HIV sehingga membutuhkan perhatian serta pendampingan berkelanjutan.
"Kami berupaya memastikan kelompok yang memiliki faktor risiko tetap mendapatkan akses layanan kesehatan yang aman, ramah, dan mudah dijangkau. Pemeriksaan dini menjadi langkah penting karena dapat membuka peluang penanganan yang lebih cepat dan tepat," katanya.
Menurut Siswanto, HIV dapat menular melalui hubungan seksual berisiko maupun kontak dengan darah yang terinfeksi, termasuk penggunaan jarum suntik secara bergantian. Oleh karena itu, edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam setiap program yang dijalankan.
Selain menyediakan layanan pemeriksaan, PKBI Jawa Timur juga aktif melakukan penyuluhan kepada komunitas sasaran melalui berbagai metode, baik secara tatap muka maupun daring. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV).
Saat ini, program PKBI Jawa Timur difokuskan pada tiga populasi kunci, yakni pengguna napza suntik (penasun), lelaki seks dengan lelaki (LSL), dan transgender (TG).
Siswanto menambahkan, Kabupaten Sidoarjo masih menjadi salah satu daerah dengan angka kasus HIV yang cukup tinggi di Jawa Timur. Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk memperluas akses deteksi dini, pengobatan, dan pendampingan bagi masyarakat yang membutuhkan.
"HIV bukan akhir dari segalanya. Dengan kepatuhan menjalani terapi ARV serta menerapkan pola hidup sehat, penyandang HIV tetap bisa bekerja, beraktivitas, dan menjalani kehidupan secara produktif," terangnya.
Sementara itu, Pimpinan YPP Al Kholiqi, H. Abdul Kholiq, berharap sinergi antara lembaga rehabilitasi, fasilitas kesehatan, dan organisasi masyarakat dapat terus diperkuat demi memberikan manfaat yang lebih luas.
"Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk mendukung upaya pencegahan sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi para pasien rehabilitasi. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa mendatang," tuturnya.
Melalui kegiatan Mobile VCT tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Puskesmas Waru, PKBI Jawa Timur, dan YPP Al Kholiqi berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala sekaligus memperluas akses layanan HIV bagi kelompok yang membutuhkan.