Blora, MEMANGGILCO - Di mata sebagian orang, Brilian Syah Putra mungkin terlihat seperti pemuda biasa yang lebih sering di rumah atau nongkrong santai. Tak jarang, ia sempat mendapat anggapan sebagai pengangguran dari lingkungan sekitar.
Namun di balik itu, Brilian justru menjalani profesi yang tidak semua orang pahami. Ia adalah seorang ilustrator yang fokus pada desain artwork dan logotype untuk komunitas musik underground/metal, dengan klien yang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.
Pemuda asal Desa Bangsri, Jepon, Blora, Jawa Tengah ini membuktikan bahwa dunia kreatif bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
Perjalanan Brilian tidak instan. Ia mulai tertarik pada dunia seni sejak kecil, lalu memberanikan diri menampilkan karyanya sekitar tahun 2016.
Baru pada 2019, ia mulai mendapatkan klien pertamanya dari luar negeri setelah mengunggah karya di media sosial.
Sejak saat itu, perlahan jalannya terbuka. Kini, karya-karyanya banyak diminati oleh klien dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Kanada, hingga Eropa. Dari pekerjaan tersebut, ia mampu meraih penghasilan rata-rata hingga Rp14 juta per bulan.
Meski terlihat santai, Brilian mengaku tantangan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri. Menjaga konsistensi dan melawan rasa jenuh menjadi hal yang tidak mudah dalam dunia kreatif.
“Tantangan terbesar itu menjaga konsistensi. Kadang jenuh, tapi harus tetap jalan. Makanya eksplorasi itu penting supaya nggak stagnan dan bisa nemu ciri khas sendiri,” ujarnya.
Baginya melakukan explorasi adalah sebuah keharusan, agar tidak stagnan dan jenuh.
"Syukur kalau dari beberapa explorasi kita bisa menggabungkan beberapa style dan berhasil menciptakan ciri khas goresan atau karya," tambahnya.
Selain itu, ia juga pernah menghadapi pandangan negatif dari lingkungan sekitar yang belum memahami pekerjaannya. Namun, Brilian memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
“Pernah diremehkan, dibilang pengangguran. Tapi saya santai saja. Bagi saya, pembuktian terbaik bukan lewat omongan, tapi hasil. Ketika sudah terlihat hasilnya, pandangan orang juga berubah sendiri,” katanya.
Ke depan, Brilian berencana terus mengembangkan kemampuannya, tidak hanya di dunia digital, tetapi juga karya manual seperti menggambar di kertas, kanvas, hingga menggunakan cat.
"Selain fokus karya digital, sebenarnya saya malah lebih tertarik dan suka dengan proses style pembuatan karya yang manual, serasa lebih punya jiwa dan rasa yang lebih hidup, serta menjadikan karya lebih mempunyai value dari prosesnya yang panjang," ujarnya.
Ia juga membagikan pesan untuk anak muda, khususnya di Blora, agar berani memulai dari hal yang disukai dan tidak takut gagal.
“Mulai dari apa yang kalian suka, pelajari serius, jangan takut gagal. Jangan nunggu peluang, tapi ciptakan. Perbanyak karya dan tunjukkan. Semua yang besar juga pasti pernah mulai dari nol,” pesannya.
Kisah Brilian menjadi bukti bahwa bekerja dari rumah bukan berarti tidak produktif. Justru dari ruang sederhana, ia mampu menembus pasar internasional dan membuktikan bahwa dunia kreatif bisa menjadi jalan hidup yang menjanjikan.