Cepu, MEMANGGIL.CO - Di tengah kekhawatiran meningkatnya penyakit akibat banjir yang kerap melanda wilayah Cepu, Kabupaten Blora, RSUD dr. R. Soeprapto Cepu memastikan bahwa hingga saat ini belum terjadi lonjakan signifikan kasus penyakit yang berkaitan langsung dengan bencana tersebut.
Meski demikian, kondisi yang terlihat relatif terkendali di tingkat rumah sakit tidak serta-merta mencerminkan situasi sepenuhnya aman. Potensi ancaman kesehatan tetap ada dan dapat muncul sewaktu-waktu, terutama jika kondisi lingkungan pascabanjir tidak segera pulih.
Direktur RSUD dr. R. Soeprapto Cepu, drg. Wilys Yuniarti, menyampaikan bahwa hingga kini pihaknya belum mencatat adanya peningkatan jumlah pasien yang datang dengan keluhan penyakit akibat dampak banjir.
“Untuk saat ini RSUD belum ada catatan peningkatan dampak dari banjir, mungkin juga penyakit akibat dampak banjir sudah bisa ditangani di FKTP,” jelasnya pada Selasa (14/4/2026).
Ia mengungkapkan, kemungkinan besar sebagian kasus penyakit yang muncul di masyarakat telah lebih dulu tertangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), seperti puskesmas dan klinik. Hal ini membuat tidak semua pasien harus dirujuk ke rumah sakit.
Kondisi tersebut, menurut drg. Wilys, menjadi salah satu indikator bahwa sistem layanan kesehatan di tingkat dasar masih berfungsi dengan baik dalam menangani kasus-kasus ringan hingga sedang. Namun di sisi lain, hal ini juga menuntut adanya pengawasan yang lebih ketat agar potensi peningkatan kasus tidak luput dari perhatian.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa situasi yang saat ini terbilang landai tidak boleh membuat masyarakat merasa aman sepenuhnya. Risiko penyakit justru kerap muncul beberapa waktu setelah banjir surut, saat kondisi lingkungan belum sepenuhnya bersih dan sumber air masih berpotensi tercemar.
“Potensi peningkatan kasus bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama jika banjir berlangsung dalam durasi panjang atau disertai penurunan kualitas lingkungan,” ujarnya.
Faktor seperti genangan air yang tersisa, limbah yang terbawa arus, serta terganggunya akses air bersih menjadi pemicu utama munculnya berbagai penyakit, mulai dari gangguan kulit hingga infeksi saluran pencernaan.
Karena itu, RSUD Cepu terus mengingatkan pentingnya kewaspadaan kolektif, baik dari masyarakat maupun tenaga kesehatan di lapangan. Deteksi dini terhadap gejala penyakit serta penanganan cepat di fasilitas kesehatan terdekat dinilai menjadi langkah krusial untuk mencegah kondisi berkembang lebih parah.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak menunda pemeriksaan kesehatan apabila mengalami gejala yang mencurigakan, terutama setelah beraktivitas di wilayah terdampak banjir.
Situasi yang saat ini masih terkendali diharapkan dapat terus dipertahankan, dengan catatan seluruh pihak tetap disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan pribadi.
Lebih lanjut, RSUD Cepu menegaskan, kewaspadaan menjadi kunci utama agar potensi lonjakan kasus penyakit pascabanjir tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa kesiapan sistem kesehatan maupun masyarakat itu sendiri.