Tuban, MEMANGGIL.CO – Pagi itu di Dusun Pandean, Desa Mulyorejo, Kecamatan Singgahan, tak ada yang benar-benar berbeda. Aktivitas warga berjalan seperti biasa, sederhana, bersahaja.
Namun bagi Sriyono (33), hari itu menjadi lebih dari sekadar rutinitas, ia kedatangan tamu yang membawa harapan baru.
Adalah Kapolres Tuban, AKBP Alaiddin, yang datang langsung menyapa. Bukan dalam suasana formal atau seremoni, melainkan dengan langkah hangat, menyusuri rumah warga yang selama ini menjalani hidup dalam keterbatasan.
Sejak kecil, Sriyono harus berdamai dengan kondisi tubuhnya. Polio membuat langkahnya tak pernah benar-benar leluasa.
Setiap gerak menjadi perjuangan, setiap aktivitas membutuhkan tenaga lebih. Di balik keterbatasan itu, ada keteguhan yang tak banyak terlihat.
Hari itu, Rabu, 13 April 2026, kehadiran Kapolres bukan sekadar kunjungan. Ia datang membawa sesuatu yang jauh lebih berarti, perhatian.
Di hadapan keluarga sederhana itu, sebuah kios kontainer lengkap dengan jajanan diserahkan. Bukan sekadar bantuan, melainkan pintu kecil menuju kemandirian.
Harapan agar Sriyono tetap bisa beraktivitas, tetap memiliki ruang untuk berusaha.
“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran Polri benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Semoga bantuan ini berkah dan bisa bermanfaat,” ujar AKBP Alaiddin dengan nada tenang.
Di sudut rumah, Yanti, kakak Sriyono, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia tahu betul, bantuan itu bukan hanya soal materi, tapi juga tentang dihargainya perjuangan hidup mereka.
“Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolres atas kepedulian dan bantuannya,” ucap Yanti lirih.
Dalam obrolan sederhana, Yanti juga bercerita tentang pengalaman mereka yang sempat tersesat saat perjalanan pulang dari sanggar disabilitas di Desa Bejagung.
Sebuah cerita kecil, namun cukup menggambarkan betapa tidak mudahnya mobilitas bagi mereka.
Cerita itu tak berhenti sebagai simpati semata. Kapolres langsung merespons. Ia meminta Kapolsek Singgahan untuk membantu mengantar Sriyono secara rutin agar tetap bisa mengikuti kegiatan di sanggar.
“Tolong pak Kapolsek diantar ya, biar tidak lagi kesasar,” pesannya singkat, namun penuh makna.
Perhatian itu juga menjangkau sosok lain di rumah tersebut, Siti Kartini (79), ibunda Sriyono, yang tengah berjuang melawan diabetes. Tanpa banyak kata, Kapolres memerintahkan petugas kesehatan kepolisian untuk memastikan akses pengobatan bagi sang ibu.
Di rumah sederhana itu, hari itu menjadi saksi bahwa kehadiran negara bisa terasa begitu dekat. Tidak dalam bentuk aturan atau seragam semata, tetapi lewat kepedulian yang nyata.
Barangkali, bagi sebagian orang, ini hanya kegiatan sosial. Namun bagi Sriyono dan keluarganya, ini adalah pengingat bahwa mereka tidak sendiri.
Dan di tengah segala keterbatasan, harapan itu akhirnya kembali menemukan jalannya.