Surabaya, MEMANGGIL.CO - Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya menggelar kuliah tamu dengan menghadirkan Pakar Hukum Tata Negara sekaligus mantan Menkopolhukam RI, Mahfud MD sebagai narasumber utama, Senin (27/04/2026).
Kuliah tamu bertemakan Rekonstruksi Tata Kelola Nasional yang dihelat dalam rangka Dies Natalis ke-54 STIESIA ini berfokus pada penguatan pemerintahan yang akuntabel dan berdampak.
Mahfud menilai persoalan utama tata kelola nasional saat ini tidak lepas dari konfigurasi politik yang memengaruhi berbagai kebijakan.
Menurutnya, praktik Merit System masih lemah sehingga penyelesaian masalah lebih sering didorong oleh kepentingan politik dibanding profesionalisme.
Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya sistem di birokrasi.
“Masalah utama tata kelola itu pada konfigurasi politik, karena banyak hal diselesaikan secara politik, bukan oleh profesional,” jelasnya.
Mahfud menegaskan bahwa perbaikan tata kelola harus dimulai dari penguatan demokrasi melalui penegakan konstitusi.
Indonesia memiliki pengalaman menghadapi dinamika serupa, meskipun kerap mengalami kemunduran setelah perbaikan dilakukan.
Namun, Mahfud optimistis peluang pembenahan tetap terbuka selama komitmen terhadap konstitusi dijaga.
“Kuncinya memperbaiki konfigurasi politik agar kembali ke konstitusi dan penegakan hukum,” kata Mahfud.
Selain itu, Mahfud juga menyoroti perlunya sikap tegas pemerintah dalam menjamin keselamatan prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian dunia.
Dia menilai kejelasan komando dan perlindungan menjadi hal penting di tengah dinamika konflik global yang kerap mengabaikan aturan internasional.
Dikatakan Mahfud, negara harus hadir memberikan jaminan maksimal bagi keselamatan personel yang diutus.
“Pemerintah harus bersikap tegas dan memastikan ada jaminan keselamatan yang jelas bagi prajurit kita,” jelasnya.
Ketua STIESIA Surabaya Prof Dr Nur Fadjrih Asyik menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-54 yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kuliah tamu tersebut difokuskan pada pengayaan keilmuan mahasiswa, khususnya dalam memahami praktik tata kelola di dunia nyata.
“Kehadiran praktisi seperti Prof Mahfud penting untuk menjembatani teori dan praktik, ini bagian dari pengayaan mahasiswa,” ujarnya.
Nur menambahkan, mahasiswa selama ini telah dibekali pemahaman ekonomi secara mikro dan makro. Namun membutuhkan perspektif praktis dari kalangan birokrat.
Sehingga, lulusan diharapkan memiliki kompetensi yang lebih komprehensif dalam mengelola organisasi, termasuk di sektor publik.
Kegiatan itu juga menjadi sarana memperkuat wawasan demokrasi dan tata kelola berbasis hukum.
“Harapannya mahasiswa punya kompetensi dan skill untuk berkontribusi dalam pengelolaan organisasi secara lebih luas,” tambahnya.
Kuliah tamu yang diharapkan dapat memperluas diskusi sekaligus memperkuat jejaring antara akademisi dan praktisi dalam mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih baik tersebut, diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, mitra institusi, alumni, serta pengguna lulusan STIESIA.