Tuban, MEMANGGIL.CO – Langit siang di kawasan TITD Kwan Sing Bio terasa berbeda, Minggu (3/5/2026). Ribuan orang tumpah ruah, memadati halaman hingga sudut-sudut kelenteng terbesar di Asia Tenggara itu.
Mereka datang bukan sekadar menyaksikan perayaan, melainkan merayakan kembalinya sebuah tradisi yang lama terhenti yakni Festival Reuni Kimsin.
Di tengah hiruk-pikuk, belasan Kimsin, replika arca suci yang mewakili dewa-dewi diarak perlahan. Para peserta, mengenakan kostum khas Tionghoa, menggotongnya dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat.
Mereka datang dari berbagai penjuru. Mulai Jakarta, Tangerang, Surabaya, Balikpapan, Bojonegoro, dan sejumlah kelenteng lainnya dari berbagai luar daerah.
Jarak jauh tak menjadi penghalang untuk ikut larut dalam ritual yang sarat makna spiritual ini.
Namun, ada yang berbeda dari kirab tahun ini. Arak-arakan yang biasanya melintasi jalanan kota, kali ini hanya berputar di dalam area kelenteng.
Keputusan itu diambil setelah pihak kepolisian tidak memberikan rekomendasi izin dengan alasan keamanan, meski sebelumnya Pemerintah Kabupaten Tuban telah mengizinkan penggunaan jalan.
Keterbatasan ruang tak menyurutkan semangat. Justru di dalam area yang lebih intim, nuansa sakral terasa semakin kuat.
Denting musik tradisional berpadu dengan gemulai tarian barongsai dan naga, menciptakan atmosfer yang memikat sekaligus menggetarkan.
“Arak-arakan ini sebagai tolak bala dan diharapkan menyebar berkah dewa,” tutur Go Tjong Ping, Ketua Umum Terpilih TITD Kwan Sing Bio Tuban.
Baginya, festival ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan penanda kebangkitan. Setelah 14 tahun vakum akibat polemik internal, Reuni Kimsin akhirnya kembali digelar dengan skala yang bahkan melampaui ekspektasi.
Lonjakan pengunjung menjadi bukti. "Sekitar 5 ribu tamu dari luar kota dan 25 ribu warga lokal memadati kawasan kelenteng selama tiga hari penyelenggaraan," ungkap Go Tjong Ping.
Ia mengaku gelombang pengunjung ini tak hanya membawa semangat spiritual, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi.
Bangkitkan Perekonomian
Ratusan pelaku UMKM ikut merasakan berkahnya. Stand-stand kuliner dan kerajinan dipadati pembeli sejak hari pertama.
"Panitia mencatat, sekitar 25 ribu kupon undian tersebar, sementara omzet pelaku usaha diperkirakan menembus Rp2,5 miliar," jelasnya.
Sejak hari pertama, Go Tjong Ping menjelaskan kawasan kelenteng telah dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan beragam pertunjukan, mulai dari barongsai, liong, fashion show, tarian hingga reog Ponorogo, dan lainnya.
"Kehadiran figur Roy Kiyoshi juga menambah daya tarik tersendiri," ungkap Go Tjong Ping.
Makan Gratis
Di sudut lain, dapur umum bekerja tanpa henti. Asap mengepul dari wajan-wajan besar, menyiapkan ribuan porsi makanan gratis setiap hari.
“Sehari 8 ribu porsi kita bagikan untuk pengunjung,” ujar Erni, panitia seksi konsumsi.
Festival ini tak hanya memanjakan mata dan perut, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam. Ratusan umat tampak khusyuk bersembahyang di altar utama, memanjatkan doa di tengah riuhnya perayaan.
Puncaknya terjadi saat arak-arakan Kimsin hingga ritual Fangshen, pelepasan burung ke alam bebas, digelar di depan pintu utama kelenteng.
Burung-burung yang dilepas terbang tinggi, membawa simbol harapan, cinta kasih, welas asih, umur panjang, dan keberkahan hidup.
Di antara kerumunan, Anton, pengunjung asal Surabaya, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
“Bangga bisa ikut menyaksikan acara di kelenteng Tuban ini,” ujarnya singkat.
Bagi banyak orang, Reuni Kimsin bukan hanya soal tradisi, melainkan ruang pertemuan lintas daerah, lintas generasi, bahkan lintas keyakinan.
Di tempat ini, doa, budaya, dan kebersamaan menyatu dalam satu irama.
“Ikut berdoa di sini sekaligus mencari persaudaraan sambil menikmati libur,” ungkap salah satu pengunjung.