Rembang, MEMANGGIL.CO -Jalan menanjak menjadi bagian dari perjalanan menuju sebuah situs bersejarah di perbukitan Gunung Lasem. Di Dukuh Gowak, Desa Gowak, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, berdiri sebuah bangunan kecil yang dikenal masyarakat sebagai Candi Malad.
Lokasinya berada di kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Pepohonan tumbuh rimbun di sekitar situs, membuat suasana terasa sejuk dan teduh. Di sisi selatan bangunan makam, sebuah pohon beringin berukuran besar berdiri kokoh, menambah kesan sakral di kawasan tersebut.
Candi Malad diyakini warga sebagai tempat persemayaman abu jenazah Dewi Indu, Raja Lasem pada abad ke-14 atau sekitar 1351 Masehi. Nama Dewi Indu sendiri menjadi bagian dari cerita sejarah Lasem yang hingga kini masih dikenal masyarakat setempat.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati jalur yang menanjak. Jalan menuju Candi Malad masih dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, meski beberapa ruas terlihat mengalami kerusakan.
Perjalanan menuju situs menjadi pengalaman tersendiri. Setelah melewati kawasan permukiman, suasana perlahan berubah menjadi lebih sepi. Jalur perbukitan membawa pengunjung menuju kawasan yang lebih teduh, hingga akhirnya tiba di lokasi Candi Malad.
Bangunan makam Dewi Indu terlihat sederhana. Bentuknya menyerupai joglo berukuran mini, dengan luas sekitar 2 meter x 2 meter dan tinggi kurang lebih 2,5 meter.
Di sekeliling bangunan terpasang kain berwarna hijau dengan renda kuning emas pada bagian tepinya. Area makam juga dikelilingi pagar dari batu bata merah yang sekilas mengingatkan pada karakter arsitektur khas peninggalan masa Majapahit.
Di dalam bangunan terdapat sebuah kotak berbahan tanah liat yang menurut keterangan masyarakat berisi abu jenazah Dewi Indu. Di sekitar kotak tersebut terlihat bekas taburan bunga, dupa, dan sesaji.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa Candi Malad masih dikunjungi oleh peziarah. Ada warga sekitar maupun pengunjung dari luar daerah yang datang untuk melihat situs sekaligus mengenal lebih dekat cerita sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.
Tomo, warga Desa Gowak, mengatakan Candi Malad sudah lama dikenal masyarakat sebagai salah satu situs bersejarah di kawasan Lasem. Menurutnya, masyarakat sekitar berupaya menjaga keberadaan situs tersebut agar tetap lestari.
“Tempat ini sering didatangi warga maupun orang luar daerah yang ingin melihat langsung sejarah Lasem,” kata Tomo, ditulis Minggu (20/9/2026).
Bagi masyarakat, keberadaan Candi Malad tidak hanya berkaitan dengan tempat ziarah. Situs tersebut juga menjadi salah satu jejak yang menghubungkan kehidupan masyarakat saat ini dengan cerita Lasem pada masa lampau.
Di tengah perkembangan kawasan wisata dan semakin mudahnya akses informasi, keberadaan situs seperti Candi Malad memiliki potensi untuk dikenalkan lebih luas sebagai bagian dari wisata sejarah dan budaya Lasem.
Namun, pengembangan tersebut perlu tetap memperhatikan kelestarian situs. Bangunan makam, lingkungan sekitar, hingga tradisi ziarah yang masih berlangsung merupakan bagian dari identitas Candi Malad yang perlu dijaga.
Jika dikembangkan dengan pendekatan yang tepat, Candi Malad dapat menjadi salah satu tujuan wisata edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Mereka tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi juga dapat melihat langsung tempat dan lingkungan yang menjadi bagian dari cerita masa lalu Lasem.
Candi Malad mungkin tidak memiliki bangunan besar atau kawasan luas seperti sejumlah situs sejarah lainnya. Namun, kesederhanaannya justru menjadi bagian dari daya tarik tempat ini.
Di bawah rindangnya pohon beringin dan di tengah suasana tenang perbukitan Gunung Lasem, Candi Malad menyimpan cerita tentang Dewi Indu dan sejarah Lasem yang terus dikenang masyarakat.
Perjalanan menuju situs tersebut pada akhirnya bukan hanya soal mencapai sebuah bangunan di atas perbukitan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk menengok kembali jejak sejarah Lasem yang masih dirawat, diziarahi, dan diceritakan dari generasi ke generasi.