Nganjuk, MEMANGGIL.CO - Panggung ludruk kembali bergerak. Bukan di gedung besar, melainkan menyapa langsung ruang-ruang desa. Sabtu malam (25/4), Sanggar Rumah Ilalang di Karangnongko, Ngronggot, Nganjuk, menjadi titik temu warga dalam pentas keliling Ludruk Garingan Meimura (Meijono).
Mengusung tema “Sambang Putu”, pertunjukan ini tidak hanya membawa cerita keluarga lintas generasi, tetapi juga menghadirkan fungsi lain yang semakin terasa penting: menghidupkan ruang publik desa. Warga tidak sekadar datang menonton, tetapi berkumpul, berinteraksi, dan berbagi pengalaman dalam satu ruang budaya yang hidup.
Program “Besut Jajah Deso Milangkori” yang dibawa Meimura memang dirancang untuk mendekatkan kembali seni tradisi ke masyarakat. Setelah menyambangi Surabaya, Sidoarjo, dan Jombang, Nganjuk menjadi titik keempat perjalanan yang menunjukkan bahwa desa tetap menjadi basis penting bagi keberlangsungan ludruk.
Di Sanggar Rumah Ilalang, pendekatan itu terasa lebih kuat. Komunitas yang berdiri sejak 2000 ini selama ini dikenal sebagai ruang kreatif berbasis warga, terutama anak-anak. Dalam pementasan kali ini, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat aktif, menjadikan panggung sebagai ruang bersama.
Tema “Sambang Putu” sendiri dihadirkan dengan gaya khas Besut ringan, jenaka, namun penuh makna. Kisah tentang hubungan kakek-nenek dan cucu ditafsirkan sebagai simbol kesinambungan hidup, yang dalam konteks desa menjadi refleksi penting tentang bagaimana nilai-nilai diwariskan secara alami di tengah kehidupan sehari-hari.
“Ruang publik seperti ini penting untuk menjaga denyut budaya tetap hidup,” ujar Mei.
Keberadaan Sanggar Rumah Ilalang memperkuat fungsi tersebut. Didirikan oleh Agus R. Subagyo atau SanRego, sanggar ini telah menjadi pusat aktivitas seni warga, mulai dari puisi, teater, hingga musik. Dari tempat sederhana di desa, lahir berbagai kegiatan budaya yang terus melibatkan masyarakat lintas usia.
Tak hanya pentas, kegiatan ini juga diikuti sarasehan budaya yang menghadirkan SanRego bersama Dr Autar Abdillah. Diskusi ini menjadi ruang refleksi tentang pentingnya ruang publik sebagai fondasi keberlanjutan seni tradisi.
Program ini merupakan bagian dari Pemberdayaan Ruang Publik Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI, yang mendorong seni tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga sebagai alat penguat interaksi sosial di masyarakat.
Di Nganjuk, pesan itu tampak nyata. Ludruk tidak sekadar tampil, tetapi menghidupkan desa menyatukan warga, membuka ruang dialog, dan mengembalikan fungsi budaya sebagai perekat sosial yang mulai jarang ditemui.