Blora, MEMANGGIL.CO - Pemerintah Desa Bradag, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora terus berupaya menghidupkan kembali aset-aset desa yang sempat terbengkalai. Salah satu langkah strategis yang kini disiapkan adalah mengalihkan fungsi lahan pariwisata yang mangkrak menjadi fasilitas produktif berupa dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).

Lahan yang sebelumnya dibangun dengan Dana Desa (DD) pada periode 2019 hingga 2021 itu awalnya dirancang sebagai kawasan wisata desa.

Namun, rencana tersebut terhenti di tengah jalan akibat kendala utama, yakni keterbatasan sumber air di lokasi pembangunan.

Akibatnya, sejumlah bangunan seperti gazebo yang sudah terlanjur berdiri kini tidak terawat dan tidak memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PAD).

Dari Wisata Mangkrak ke Ketahanan Pangan

Sebelum masuk ke program Makan Bergizi Gratis (MBG), Pemerintah Desa Bradag sebenarnya telah lebih dulu menjalankan program ketahanan pangan berbasis rumah tangga.

Warga dilibatkan dalam penanaman tanaman hortikultura seperti cabai, terong, dan tomat yang ditanam di pot menggunakan sekam dan tanah lokal.

“Setiap rumah kami alokasikan sekitar 20 pot tanaman. Tujuannya untuk ketahanan pangan warga, meskipun memang belum bisa menambah PAD secara signifikan,” ujar Kepala Desa Bradag, Luluk Nasruatin, yang juga merupakan mitra SPPG, Sabtu (25/4/2026).

Program ini menjadi langkah awal desa dalam membangun kemandirian pangan sekaligus memberdayakan masyarakat di tingkat rumah tangga.

SPPG Diharapkan Jadi Motor Ekonomi Desa

Untuk memberikan dampak ekonomi yang lebih besar, muncul inisiatif pemanfaatan lahan mangkrak di belakang pemukiman sebagai lokasi SPPG Bradag – Ngawen 3.

Rencana tersebut sempat menjadi pembahasan dalam Musyawarah Desa (Musdes) dan akhirnya disepakati bersama.

“Kami sudah musdekan, dan sudah disepakati,” tegas Luluk.

Ia menegaskan bahwa pembangunan SPPG ini tidak akan membebani keuangan desa. Seluruh modal direncanakan dicari secara mandiri tanpa menggunakan kas desa maupun pungutan kepada warga.

Sate Pak Rizki

Selain itu, seluruh proses pengelolaan akan dilakukan secara transparan dan sesuai mekanisme Musyawarah Desa karena berdiri di atas aset desa.

“Untuk masuk ke APBDes itu setahun sekali sesuai kesepakatan dalam musdes. Nominalnya sudah diatur dalam perjanjian,” jelasnya.

Lebih jauh, keberadaan SPPG diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar. Mayoritas tenaga kerja yang akan dilibatkan berasal dari masyarakat lokal.

“Yang terpenting bisa mengurangi pengangguran warga, dan juga memberikan manfaat untuk lembaga desa seperti BUMDes dan Kopdes yang selama ini belum punya kegiatan pasti,” tambahnya.

Menu Bergizi Hingga Sistem Pengolahan Modern

Dalam operasionalnya, SPPG Bradag juga menyiapkan variasi menu bergizi, termasuk daging sapi yang dijadwalkan hadir sekali dalam seminggu.

“Seminggu sekali kami selalu menjadwalkan menu daging sapi, walaupun harganya sangat mahal sekitar Rp140.000 per kilogram tanpa lemak,” ungkap Luluk.

Sementara itu, Kepala SPPG Grabag – Ngawen 3, Fais, menjelaskan bahwa fasilitas pendukung di dapur tersebut sudah mulai lengkap. Mulai dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), tenaga ahli gizi, hingga akuntan.

“Untuk IPAL sudah terpasang. Ahli gizi saat ini baru pulang ke Semarang, sedangkan akuntannya orang Blora sendiri,” jelas Fais.

Saat ini, SPPG tersebut telah memproduksi sekitar 2.800 porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sejumlah sekolah. Meski sempat menghadapi kendala keterlambatan distribusi, pihak pengelola mengklaim masalah tersebut kini telah tertangani.

“Sekarang sudah sekitar 2.800-an porsi. Dulu memang sempat ada kendala keterlambatan penyaluran ke sekolah, tapi sekarang sudah dievaluasi dan berjalan lebih baik,” pungkasnya.