Blora, MEMANGGIL.CO - Sebuah rumah sakit biasanya identik dengan ruang perawatan, suara aktivitas tenaga medis dan pasien yang datang silih berganti. Namun di balik aktivitas RSUD dr. R. Soetijono Blora, tersimpan jejak masa lalu yang membawa cerita jauh ke belakang, ketika pelayanan kesehatan di Blora masih berada pada masa awal perkembangannya.

Di balik bangunan rumah sakit yang kini berdiri di Jalan Dr. Sutomo Nomor 42 itu, terdapat kisah tentang sebuah rumah sakit yang lahir pada masa kolonial. Jejak tersebut bahkan masih menyisakan bangunan tua dan sebuah bunker bawah tanah yang pernah digunakan untuk menyimpan obat.

Cerita itu bermula pada 1907. Kala itu, sebuah badan zending asal Jerman, Neukirchenn Missionhaus yang tergabung dalam Salatiga Zending, menjalankan kegiatan di berbagai bidang, mulai dari keagamaan, pendidikan hingga pelayanan kesehatan dan sosial.

Dari aktivitas tersebut kemudian lahir Rumah Sakit Umum Zending Blora. Rumah sakit itu menjadi salah satu bagian awal perjalanan pelayanan kesehatan modern di wilayah Blora.

Pada masa awal berdiri, rumah sakit tersebut masih jauh dari gambaran rumah sakit seperti sekarang. Hanya ada tiga tenaga medis yang menjalankan pelayanan, yakni seorang pimpinan berkebangsaan Belanda, seorang suster asal Jerman dan seorang bidan.

Fasilitasnya pun sangat sederhana. Rumah sakit tersebut disebut hanya memiliki kamar operasi serta sarana komunikasi berupa sambungan telepon dari Rembang.

Lokasinya juga belum berada di tempat yang sekarang dikenal masyarakat. Rumah sakit pertama kali berdiri di kawasan Jalan Gunung Sindoro, Kelurahan Tempelan, Kecamatan Blora Kota, yang saat ini menjadi kawasan SDN I Tempelan.

Lima tahun kemudian, perjalanan rumah sakit memasuki babak baru. Pada 1912, fasilitas kesehatan tersebut berpindah ke Jalan Dr. Sutomo dan lokasi itulah yang kemudian menjadi bagian dari sejarah panjang RSUD Blora hingga sekarang.

Nama Soetijono dan Pergantian Zaman

Perjalanan rumah sakit tidak berlangsung mulus. Perubahan besar terjadi ketika dunia memasuki Perang Dunia II pada 1940 dan situasi politik internasional ikut memengaruhi keberlangsungan Rumah Sakit Zending Blora.

Kondisi tersebut kemudian semakin berat setelah Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Sistem pengelolaan dan pembiayaan rumah sakit ikut terdampak sehingga keberlangsungan pelayanan kesehatan menghadapi tantangan.

Di tengah perubahan zaman tersebut muncul nama dr. R. Soetijono. Ia tercatat sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran dalam fase akhir pengelolaan Rumah Sakit Zending Blora.

Pada 27 Maret 1950, pengelolaan Rumah Sakit Zending Blora kemudian diserahkan kepada Bupati Blora. Saat proses penyerahan itu, rumah sakit berada di bawah kepemimpinan dr. R. Soetijono.

Tanggal tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan institusi yang kelak berkembang menjadi RSUD dr. R. Soetijono Blora. Nama sang dokter pun akhirnya diabadikan sebagai identitas rumah sakit karena keterkaitannya dengan sejarah kepemimpinan pada masa tersebut.

Namun kisah RSUD Blora bukan hanya tentang nama seorang dokter. Di kawasan rumah sakit itu juga terdapat peninggalan fisik yang menjadi saksi perjalanan masa lalu.

Salah satunya adalah bangunan tua yang disebut sebagai salah satu peninggalan dari masa awal Rumah Sakit Zending Blora. Bangunan tersebut menjadi pengingat bahwa kompleks rumah sakit saat ini berdiri di atas sejarah yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

Yang paling menarik justru berada di bawah permukaan. Sebuah bunker tua berada di bawah salah satu ruang rawat inap RSUD Blora.

Bunker biasanya identik dengan kebutuhan perlindungan ketika terjadi peperangan. Bangunan semacam ini umumnya dibuat di bawah tanah untuk memberikan perlindungan dari ancaman yang datang dari luar.

Namun bunker tua di RSUD Blora memiliki perjalanan yang berbeda. Setelah zaman berubah, ruang yang dahulu menjadi bagian dari peninggalan masa lampau itu kemudian dimanfaatkan untuk menyimpan obat.

Keberadaan bunker tersebut membuat sejarah RSUD Blora terasa tidak sekadar berada di dalam arsip. Jejaknya masih meninggalkan bentuk fisik yang berada di lingkungan rumah sakit dan menjadi bagian dari cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini, masyarakat mungkin lebih mengenal RSUD dr. R. Soetijono Blora sebagai fasilitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit tersebut menjalankan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna, termasuk rawat jalan, rawat inap dan pelayanan darurat.

Namun jika melihat lebih jauh, tempat itu menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Dari Rumah Sakit Zending dengan tiga tenaga medis dan fasilitas terbatas, perjalanan tersebut berkembang menjadi rumah sakit daerah yang terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.

Bunker tua yang masih dijaga menjadi salah satu pengingat bahwa perkembangan pelayanan kesehatan tidak terjadi dalam satu malam. Ada pergantian zaman, perubahan pengelolaan, perjuangan tenaga kesehatan dan warisan bangunan yang tetap bertahan.

Begitu pula dengan nama dr. R. Soetijono. Nama tersebut bukan sekadar tulisan yang terpampang di depan rumah sakit, tetapi bagian dari perjalanan sejarah sebuah institusi kesehatan di Kabupaten Blora.

Lebih dari seabad setelah cikal bakalnya berdiri, RSUD dr. R. Soetijono Blora kini menjalankan fungsi yang jauh lebih besar dibanding masa awal kelahirannya. Tetapi di balik modernisasi pelayanan dan fasilitas kesehatan, cerita lama tentang dokter, rumah sakit zending dan bunker bawah tanah tetap menjadi bagian dari identitasnya.

Sebab, setiap rumah sakit memiliki sejarahnya sendiri. Dan di RSUD dr. R. Soetijono Blora, sejarah itu masih meninggalkan jejak—bukan hanya dalam nama, tetapi juga pada bangunan tua dan bunker yang diam-diam menyimpan cerita dari masa lalu.