Blora, MEMANGGIL.CO - Transformasi pelayanan kesehatan di Kabupaten Blora memasuki babak baru. RSUD dr. R. Soetijono Blora kini memperkuat layanan medis dengan menghadirkan Cathlab Digital Subtraction Angiography (DSA) dan CT-Scan 64 Slice, dua fasilitas yang membuka peluang lebih besar bagi masyarakat mendapatkan layanan diagnostik dan tindakan medis berteknologi modern di dalam daerah.
Pengembangan fasilitas tersebut bukan semata soal penambahan alat kesehatan. RSUD dr. R. Soetijono Blora menempatkannya sebagai bagian dari strategi mendekatkan pelayanan kepada pasien sekaligus mengurangi beban perjalanan dan biaya nonmedis ketika masyarakat membutuhkan layanan kesehatan tertentu.
Direktur RSUD dr. R. Soetijono Blora, dr. Puji Basuki, melalui Kepala Bidang Pelayanan RSUD dr. R. Soetijono Blora, dr. Ikawati Rahmi Dewi, menyampaikan bahwa arah pengembangan rumah sakit adalah membangun ekosistem pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Yang kami bangun bukan hanya fasilitas atau alat kesehatan, tetapi sebuah ekosistem pelayanan yang semakin mampu menjawab kebutuhan masyarakat Blora dan sekitarnya,” ujar dr. Ikawati.
Menurut dia, masyarakat menjadi pihak yang paling diuntungkan ketika teknologi medis dapat tersedia lebih dekat. Pasien tidak harus selalu melakukan perjalanan ke kota besar hanya untuk mendapatkan pemeriksaan atau tindakan yang sudah dapat dilakukan di RSUD Blora sesuai indikasi medis.
“Dengan hadirnya Cathlab DSA dan CT-Scan 64 Slice, kami ingin masyarakat memiliki pilihan pelayanan yang lebih dekat, sehingga perjalanan pasien dan keluarga dapat menjadi lebih sederhana dan biaya nonmedis seperti transportasi serta akomodasi dapat ditekan,” katanya.
Cathlab DSA memperkuat kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah. Melalui teknologi Digital Subtraction Angiography, dokter dapat memperoleh gambaran pembuluh darah secara real-time dengan lebih jelas.
Layanan tersebut dapat digunakan untuk sejumlah kebutuhan, mulai dari kateterisasi jantung diagnostik, angiografi otak pada kasus stroke, angiografi pembuluh darah perifer hingga tindakan embolisasi sesuai indikasi medis.
Pendekatan kateterisasi juga memungkinkan tindakan tertentu dilakukan secara minim invasif. Materi layanan RSUD Blora mencantumkan akses sayatan sekitar 2–3 milimeter untuk tindakan yang memang dapat dilakukan dengan metode tersebut.
Di sisi lain, CT-Scan 64 Slice memperkuat kemampuan diagnosis melalui teknologi pencitraan dengan 64 irisan gambar dalam satu putaran. Pemeriksaan dapat menghasilkan gambaran anatomi yang lebih detail dan mendukung rekonstruksi tiga dimensi.
Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai pemeriksaan, antara lain CT Cardiac, CT Angio otak dan tubuh, thorax-abdomen hingga rekonstruksi 3D untuk kasus patah tulang kompleks.
Kecepatan pemeriksaan juga menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan. Berdasarkan paparan layanan RSUD Blora, pemindaian seluruh tubuh dapat berlangsung sekitar 10–15 detik, sementara hasil pembacaan disebut dapat tersedia kurang dari dua jam tergantung jenis pemeriksaan dan kondisi layanan.
RSUD Blora juga menyebut CT-Scan 64 Slice memiliki bore selebar 78 sentimeter, dengan kemampuan melayani pasien dengan berat badan hingga sekitar 200 kilogram sesuai ketentuan pemeriksaan.
Pengembangan fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung penanganan berbagai kondisi yang membutuhkan pemeriksaan cepat, termasuk kecelakaan, stroke dan nyeri dada. Dukungan petugas radiologi menjadi bagian dari kesiapan pelayanan tersebut.
“Dengan teknologi tersebut, kami berharap proses diagnosis dapat dilakukan lebih cepat sehingga dokter dapat menentukan langkah penanganan pasien dengan lebih tepat,” jelas dr. Ikawati.
Dari sisi biaya, RSUD Blora juga berupaya menjaga agar layanan berteknologi modern tetap dapat dijangkau masyarakat. Tarif yang tercantum dalam paparan layanan untuk pasien umum yakni Rp4.750.000 untuk DSA dan Rp1.500.000 untuk CT-Scan 64 Slice.
Sementara itu, proses pengajuan pelayanan yang dapat dijamin BPJS Kesehatan masih berlangsung. Untuk sementara, layanan tersebut masih berlaku bagi pasien umum.
“Jadi, masyarakat tidak perlu langsung berasumsi bahwa pemeriksaan dengan teknologi canggih selalu mahal. Kami berupaya memberikan tarif yang kompetitif sekaligus mendekatkan akses pelayanan kepada masyarakat,” tutur dr. Ikawati.
Pengembangan teknologi tersebut sekaligus memperkuat posisi RSUD dr. R. Soetijono Blora sebagai fasilitas kesehatan milik Pemerintah Kabupaten Blora. Data Kementerian Kesehatan mencatat rumah sakit tersebut berstatus rumah sakit umum daerah, kelas C dan berstatus BLUD, dengan dr. Puji Basuki, M.Kes. sebagai direktur.
Situs resmi RSUD Blora juga menunjukkan rumah sakit terus mengembangkan pelayanan dan kompetensi sumber daya manusia. Pada Agustus 2026, misalnya, RSUD Blora menjadi lokasi kegiatan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam tata laksana kegawatdaruratan maternal dan neonatal.
Bagi masyarakat, transformasi tersebut memberikan pilihan baru dalam mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus selalu keluar daerah. Ketika jarak pelayanan semakin dekat, keluarga pasien juga berpeluang mengurangi waktu tempuh, biaya transportasi dan kebutuhan akomodasi selama proses pemeriksaan.
“Pesan kami sederhana: teknologi kesehatan tidak harus membuat masyarakat pergi jauh. Justru teknologi yang kami hadirkan di RSUD dr. R. Soetijono Blora ini kami harapkan dapat mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” tegas dr. Ikawati.
Ke depan, tantangan RSUD bukan berhenti pada pengadaan peralatan. Teknologi tersebut harus terus diimbangi dengan kesiapan tenaga kesehatan, sistem pelayanan, keselamatan pasien dan kualitas diagnosis agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kami ingin RSUD dr. R. Soetijono Blora menjadi rumah sakit rujukan yang semakin kuat bagi masyarakat Blora dan wilayah sekitarnya—dengan pelayanan yang profesional, teknologi yang memadai, biaya yang terjangkau, dan tetap mengutamakan keselamatan pasien,” pungkasnya.